Marder II Tank Destroyer

Marder II Tank Destroyer

Sama halnya seperti Marder I, keberadaan Marder II tidak lepas dari kebutuhan pasukan Jerman akan tank destroyer dalam jumlah besar untuk menghadapi tank-tank Rusia. Jika Marder I merupakan hasil modifikasi terhadap Lorraine 37L, maka Marder II adalah hasil modifikasi terhadap tank ringan Panzer II.

Persenjataan utama tank destroyer dengan tiga orang awak ini sama dengan Marder I, yaitu meriam anti tank PaK 40 kaliber 75mm (37 butir amunisi). Seringkali awak Marder II juga memasang senjata tambahan berupa senapan mesin MG34 kaliber 7,92mm sebagai sarana perlindungan diri.

Marder II digunakan di semua front pertempuran pasukan Jerman, namun tank destroyer ini lebih banyak digunakan dalam pertempuran di front Rusia.

Sebagian besar Marder III digunakan pasukan Jerman di front Rusia. Walaupun demikian, sejumlah Marder III juga digunakan oleh pasukan Jerman di Tunisia, Italia, dan Eropa Barat.
More about Marder II Tank Destroyer

HESA Saegheh-80

HESA Saegheh-80

Iranian Aircraft Industries (IACI) telah bergabung dengan Malek Ashtar's Aeronautical Research Center untuk mengembangkan pesawat domestik Iran. Pesawat Saeqeh diharapkan mampu lebih hebat dari pada generasi sebelumnya Azarakhsh. Pesawat tempur ringan Saeqeh diharapkan dapat berperan sebagai pesawat tempur generasi baru dan jet trainer. Pesawat kursi-tunggal dengan mesin kembar ini akan cocok untuk berbagai macam peran udara-ke-udara dan kebutuhan support.

IACI menyebutkan bahwa proyek ini sudah dimulai beberapa tahun yang lalu, tetapi karena biaya besar yang mencapai $400 juta, maka mereka menghadapi banyak kendala. Saeqeh mampu terbang dengan kecepatan 1.7 Mach atau setara 2.083 km/jam dengan berat sekitar 4.700 kg. Kokpit dan sistem avionik pesawat ini kompatibel dengan display dan sistem lain pada pesawat tempur canggih lain termasuk F-15, F-16, MiG-29, Rafale dan Eurofighter. Sistemnya termasuk simulasi skenario tempur, simulasi operasional senjata dan sistem pertahanan diri, sistem perencanaan misi dan kemampuan debriefing. IACI mengharapkan pesawat ini dapat dipasarkan di negara Asia lain.

Specifications (HESA Saegheh-80)
General characteristics
Length: Nearly 14.70m
Wingspan: 8.80m
Maximum speed: mach 1.8 & mach 1.6 (flying
above water) modified J85 engine with 15.400 lbf thrust (I wouldn't call it J85 anymore!)
Maximum Range: 3.000km (modified flexible
tanks)
Weapon Load: Slightly more than F-5
Service Ceiling: Almost same as F-5
First Flight: 2004
Estimated price: 15 million dollar
More about HESA Saegheh-80

Grumman FF-1

Grumman FF-1

FF-1 adalah pesawat pertama yang dibuat oleh Grumman untuk Angkatan Laut AS. Fighter dengan konfigurasi biplane ini adalah pesawat AL AS pertama yang menggunakna retractable landing gear.

Prototype pesawat ini terbang pertama kali pada tanggal 29 Desember 1931 dan berhasil mencapai kecepatan 314 km/jam. AL AS kemudian membeli sebanyak 60 unit, 27 unit merupakan versi fingther FF-1 dan 33 unit lainnya merupakan versi intai SF-1. Pesawat ini digunakan oleh AL AS dari tahun 1934 sampai dengan tahun 1936 sebelum kemudian ditarik dari garis depan dan digunakan sebagai kekuatan cadangan. Pada tahun 1940 semua pesawat FF-1/SF-1 milik AL AS yang masih ada dimodifikasi dengan dual control dan dijadikan pesawat latih dengan kode FF-2.

Kanada kemudian membeli lisensi pesawat ini dan dibuat sebanyak 57 unit. Sebanyak 40 unit di antaranya kemudian dijual kepada pihak Republik Spanyol dan ikut digunakan dalam Perang Saudara Spanyol. Kemudian Kanada juga menjual pesawat ini masing-masing satu unit kepada Unit Penerbangan Militer Nikaragua dan Angkatan Laut Jepang. Angkatan Udara Kanada sendiri mengoperasikan 15 unit FF-1 hasil lisensi (yang diberi nama Goblin I) dari tahun 1940 sampai dengan tahun 1942.

Specifications (FF-1) :
Crew : 2
Length : 7.47 m
Wingspan : 10.52 m
Height : 3.38 m
Empty weight : 1,405 kg
Maximum take-off weight : 2,121 kg
Powerplant : 1 x 700 hp Wright R-1820-78 Cyclone radial engine
Maximum speed : 333 km/h
Range : 1,100 km
Service ceiling : 6,735 m
Rate of Climbing : 508 m/minute
Armament : 2 x 7.62mm machine guns; 1 x 100 lb (45kg) bomb
More about Grumman FF-1

UH-72A Lakota

UH-72A Lakota, Andalan Baru AD AS

Evakuasi medis, angkut logistik, hingga patroli dalam negeri. Itu tadi merupakan daftar tugas-tugas yang bakal diemban UH-72A Lakota, heli baru milik AD AS. Memang terdengar biasa-biasa saja. Apalagi bila melihat satuan pengguna adalah Army National Guard, so pasti banyak orang berpikir heli ini bukanlah mesin perang canggih dengan segudang teknologi yang spektakuler.

Lepas dari situasi yang tergolong adem ayem tadi, bisa dibilang Lakota sebenarnya merupakan terobosan luar biasa. Biarpun predikat tadi cuma berlaku bagi Eurocopter-EADS. Pasalnya, inilah untuk kali pertama sebuah heli desain asli Eropa mampu mengambil hati petinggi-petinggi Pentagon.

Keputusan Pentagon tadi bukanlah cuma sekadar basa-basi buat mempererat hubungan AS-Eropa yang kian merenggang gara-gara ulahnya di Irak. Namun benar-benar disebabkan karena desakan kebutuhan dilapangan. Begini kira-kira gambarannya. Saat ini Army National Guard mengoperasikan setidaknya tiga tipe heli. Masing-masing adalah Bell UH-1 Huey, OH-58 Kiowa, Sikorsky UH-60 Blackhawk. Dari segi usia, dua tipe pertama sudah kedaluarsa. Sementara UH-60 biarpun tergolong baru namun banyak unit yang harus dikerahkan buat mendukung operasi pasukan AS di garis depan. Apa boleh buat, pengadaan heli barupun mesti digelar.

Partner lokal
Rencana pembelian heli ringan serbaguna atau dikenal dengan nama program LUH (Light Utility Helicopter) muncul ditahun 2005. Kala itu pihak AD AS secara resmi berniat memborong sekitar 322 unit heli ringan baru. Eurocopter jadi salah satu pabrikan heli yang ikut dalam sayembara tadi. Modal yang dibawa adalah UH-145 yang tak lain merupakan versi militer dari heli EC-145.

Tentu saja Eurocopter punya alasan kuat untuk menurunkan tipe EC-145 dalam ajang. Dari segi legalitas misalnya varian ini telah mengantongi sertifikasi kelayakan terbang dari pihak berwenang di AS (US airworthiness authorities). Selanjutnya ditengok dari segi teknis UH-145 menyodorkan sejumlah keunggulan. Dimulai dari volume kabin yang tergolong paling lega di kelasnya. Pintu-pintu, termasuk pintu bagasi belakang yang berguna untuk akses keluar-masuk tandu dibuat lebar. Dibekali sepasang mesin heli juga sudah mengadopsi teknologi glass-cockpit, autopilot generasi terakhir, serta rotor utama non-engsel (hingeless) guna meminimalisir vibrasi dan perawatan.

Bergeser ke soal safety, sudah pasti sesuai dengan yang disyaratkan pihak AD. Sebagai gambaran, sistem pasokan bahan bakar dibuat terpisah satu sama lain. Dengan demikian bila salah satu mesin ngadat tak akan berpengaruh pada mesin lainnya. Fitur keamanan berikutnya, seluruh kursi heli dibuat sedemikian rupa agar mampu menyerap energi hantaman saat heli harus mendarat darurat. Karakter serupa juga dimiliki oleh tubuh heli.

Selain menyodorkan keunggulan, Eurocopter pun juga menerapkan taktik lain agar Pentagon benar-benar ikhlas memakai produknya. Menggandeng sejumlah partner lokal, itulah taktik yang dipakai Eurocopter sejak awal program LUH dicanangkan. Daftarnya lumayan banyak. Sebut saja mulai dari pabrikan heli kondang AS, Sikorsky, WestWind Technologies, dan CAE.

Lantas sekarang apa fungsi dari rekanan-rekanan lokal tadi dalam program? Taruhlah contoh untuk Sikorsky misalnya. Produsen heli Blackhawk ini dipercaya untuk mendukung kelancaran logistik bagi perakitan Lakota. Termasuk didalamnya perbaikan dan overhaul mesin, avionik maupun sistem autopilot. Kemudian ada WestWind Technologies yang dipercaya buat mendukung sepenuhnya piranti pengatur misi, modifikasi pada airframe, hingga dukungan teknis dan manajemen.

Sampai saat ini rencana Pentagon untuk memborong lebih dari 300 unit UH-72A Lakota tetap belum berubah. Semua heli akan dibuat di pabrikan Eurogopter yang berlokasi di Columbus, Mississippi. Bisa jadi kesuksesan Lakota merupakan langkah pembuka bagi heli-heli buatan Eropa lain mendominasi pangsa militer di Negeri Paman Sam yang terkenal punya parameter super ketat. Kita tunggu saja.

Spesifikasi
Volume kabin, termasuk kokpit: 8,08 meter kubik.
Kapasitas angkut: sembilan orang plus satu atau dua pilot.
MTOW: 3,585 kg.
Kapasitas sling: 1,5 ton.
Kapasitas BBM: 694 kg.
Sumber tenaga: sepasang mesin Arriel 1E2
Tenaga take-off: 550 kW
More about UH-72A Lakota

RPG-7

RPG-7

RPG yang merupakan singkatan dari Rocket Propellaned Grenade (granat ber-propelasi roket) sebenarnya masuk ke dalam kategori granat (bukan misil). Hal ini dikarenakan warhead (hulu ledak) di depannya hanya sebuah granat yang diluncurkan oleh sebuah pendorong dengan sistem roket. RPG-7 adalah versi lama sebenarnya namun masih banyak dipakai hingga sekarang dikarenakan biaya rawat nya yang sangat murah. RPG-7 adalah senjata buatan Rusia yang sudah digunakan sejak lama. Kelemahan RPG-7 adalah masih mengusung sistem lama, sehingga roket tidak dibekali "kepintaran" untuk mengunci dan mengejar target.

Data teknis:
Peluru : 40 mm launcher (peluncur) ; 70 - 105mm warheads (hulu ledak).
Tipe : roket tanpa hentakan balik.
Panjang keseluruhan : 650 mm
Berat : 6.3 kg tanpa roket
Jarak tembak : 200 - 500 meter (tergantung jenis roket)
More about RPG-7

KRI Mandau (621)

Kapal Patroli Cepat Kelas Mandau

KRI Mandau (621) merupakan kapal patroli cepat berpeluru kendali milik TNI AL. KRI kelas Mandau ini berperan sebagai kapal patroli utama TNI AL dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI.

KRI kelas Mandau dibuat oleh perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Tacoma SY, Masan pada 1979. Beberapa variant dari kapal kelas ini diantaranya : KRI Rencong (622) dibuat pada 1979, KRI Badik (623) dibuat pada 1980, dan KRI Keris (624) dibuat pada 1980.

KRI Mandau diawaki oleh 43 orang anak buah kapal termasuk komandan kapal. KRI Mandau tidak dilengkapi untuk pertempuran anti kapal selam (ASW) dan juga tidak dilengkapi dengan sonar pendeteksi bawah laut.

Namun untuk pertempuran permukaan persenjataan yang dimilikinya lumayan lengkap. Awalnya KRI Mandau dilengkapi dengan rudal permukaan Exocet MM-38 dengan jarak jangkau 42km. Semenjak ada kerjasama alih teknologi dengan China Exocet mulai diganti dengan rudal C-802 buatan SACCADE.

KRI Mandau mempunyai panjang 53.58meter * 1.63 meter, dan jelajah tempur 41NM (Nautikal Miles). Bobot penuh 290 ton dan bobot kosong 255 ton.

Reka bentuk kapal sangat memungkinkan untuk mengaplikasi pelbagai sistem persenjataan untuk memenuhi keperluan operasi sesuai dengan tuntutan TNI AL akan operasional kapal patroli cepat.

Persenjataan :
Penggunaan C-802 pada KRI Mandau sempat membuat efek deterence yang besar pada kapal ini, meskipun baru mengaplikasi tabung peluncur pada buritan kapal.

C-802 berbasis pada rudal jelajah anti kapal kondang Exocet dan Harpoon, China sukses merancang dan membuat rudal jelajah dengan nama asli Yingji 82 (YJ-82) ini. Hasil pengembangannya dipakai untuk mempersenjatai armada kapal perang dan pesawat tempur AB China. Varian ekspornya (C-802) kini banyak diminati negara-negara ASEAN.

C-802 mempunyai pendorong turbojet engine dengan berat luncur 715 kg, rudal ini mempunyai kecepatan Mach 0.9 diketinggian 20-30km. Jarak jangkauan mencapai 120 km, dengan muatan hulu ledak 165 kg. Rudal ini berpandu radar inertial dan terminal active radar.

Persenjataan standar KRI Mandau :
• Meriam Bofors 57 mm/70 : 1 pucuk, kecepatan tembakan 200 rpm, berjangkauan maksimum 17 km (9,3 mil laut) dengan berat amunisi 2,4 kg, anti kapal, pesawat udara, helikopter, rudal balistik, rudal anti kapal,
berpemandu tembakan Signaal WM28.
• Meriam Bofors 40 mm/70 : 1 pucuk, kecepatan tembakan 300 rpm, dengan jangkauan maksimum 12 km (6,6 mil laut) dengan berat amunisi 0,96 kg, anti kapal, pesawat udara, helikopter, rudal balistik, rudal anti kapal.
• Kanon Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall 20 mm : 2 pucuk, kecepatan tembakan 1000 rpm, dengan jangkauan efektif 2 km dengan berat amunisi 0,24 kg,
anti pesawat udara, helikopter.
More about KRI Mandau (621)

Northrop F-89 Scorpion

Northrop F-89 Scorpion

Selain Lockheed F-94 Starfire, jet tempur AS lainnya yang merupakan all weather interceptor fighter adalah Northrop F-89 Scorpion. Berbeda dengan F-94 yang dikembangkan dari pesawat latih jet T-33, F-89 adalah hasil desain baru yang benar-benar dirancang sebagai jet tempur segala cuaca. Pesawat tempur ini terbang pertama kali pada tanggal 16 Agustus 1948 dan mulai digunakan secara operasional pada bulan September 1950.

Angkatan Udara AS menggunakan F-89 Scorpion untuk menggantikan P-61 Black Widow dan F-82 Twin Mustang. Varian awal jet tempur ini (F-89A/B/C) dipersenjatai dengan enam pucuk kanon kaliber 20mm serta cantelan senjata di bawah sayap yang bisa dipasangi enam belas roket kaliber 127mm atau bom seberat 1.455 kg. Namun varian yang paling banyak dibuat adalah F-89D yang terbang pertama kali pada tanggal 23 Oktober 1951 dan mulai digunakan secara operasional pada tahun 1954.

Varian F-89D dibuat sebanyak 682 unit. Pada varian ini dilengkapi dengan radar APG-40 (yang dapat mendeteksi sasaran dari jarak 80 km), fire control E-6 buatan Hughes, dan komputer AN/APA-84. F-89D dipersenjatai dengan dua pod roket yang masing-masing berkapasitas 52 buah roket kaliber 70mm, sehingga secara total dipersenjatai dengan 104 roket kaliber 70mm. Nothrop kemudian mengembangkan F-89D menjadi varian F-89E, F-89F, dan F-89G. Namun ketiga varian tersebut tidak berhasil menarik minat USAF sehingga hanya dibuat prototype saja. Baru pada varian F-89H Angkatan Udara AS tertarik dan kemudian menggunakannya pada tahun 1956.

F-89H dilengkapi dengan fire control E-9 buatan Hughes, sama seperti yang digunakan pada jet tempur Convair F-102 Delta Dagger. Masih menggunakan dua pod senjata seperti pada F-89D, hanya saja persenjataan varian F-89H berubah menjadi enam rudal udara ke udara AIM-4 Falcon dan 42 roket kaliber 70mm.

Pada tahun 1956-1957 Angkatan Udara AS menggelar Project Ding Dong, upaya untuk meningkatkan kemampuan varian F-89D. Sebanyak 350 unit varian F-89D kemudian dikonversi menjadi varian F-89J. Varian ini mempunyai kemampuan untuk meluncurkan AIR-2 Genie, roket udara ke udara yang memiliki jarak tembak 9,7km dan dilengkapi dengan hulu ledak nuklir tipe W25. Kemampuan senjata nuklir tersebut pernah diuji coba dalam Operation Plumb Bob di tahun 1957.

F-89 Scorpion digunakan oleh USAF sampai dengan tahun 1959 dan kemudian dialihkan kepada unit-unit Air National Guard yang mengoperasikan F-89 sampi dengan tahun 1969.

Specifications (F-89D)
Crew : 2
Powerplant : 2 x 32.11kN / 7,200 lb-afterburning thrust Allison J35-A-35 turbojet engines
Length : 16.41m
Wingspan : 18.18m
Height : 5.36m
Weight empty : 11,428 kg
Maximum take-off weight : 19,160 kg
Maximum speed : 1,024 km/h
Range : 2,200 km
Service ceiling : 15,000m
Armament : 104 x 70mm rockets
More about Northrop F-89 Scorpion