Tampilkan postingan dengan label Pesawat Pengebom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Pengebom. Tampilkan semua postingan

ANF Les Mureaux 113

ANF Les Mureaux 113

ANF Les Mureaux 113 adalah reconnaissance bomber AU Perancis yang mulai digunakan sejak tahun 1931. Pesawat ini dibuat sebanyak 285 unit dalam berbagai varian, namun hampir sebagian besar pesawar ini hancur dalam Battle of France pada tahun 1940.

Setelah Battle of France, pesawat ini masih digunakan di wilayah koloni Perancis di Afrika dan Timur Tengah sampai dengan tahun 1942.

Specifications (ANF Les Mureaux 113)

Crew : 2
Length : 9.95 m
Wingspan : 15.40 m
Height : 3.81 m
Empty weight : 1,757 kg
Loaded weight : 2,885 kg
Powerplant : 1 x 860 hp Hispano-Suiza 12Ycrs radial engine
Maximum speed : 340 km/h
Range : 1,000 km
Service ceiling : 10,000 m
Armament : 1 x 20mm cannon, 4 x 7.5mm machine guns and up to 200 kg of bombs
More about ANF Les Mureaux 113

Blackburn B-24 Skua

Blackburn B-24 Skua

Blackburn Skua dirancang untuk memenuhi permintaan Angkatan Laut Inggris pada tahun 1934. Dirancang sebagai fighter sekaligus dive bomber, pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 9 Februari 1937 dan mulai digunakan secara operasional pada bulan November 1938. Skua diproduksi sebanyak 192 unit.

Sebagai fighter, Blackburn Skua sebetulnya tidak efekif karena berukuran besar dengan mesin yang kurang bertenaga sehingga kecepatan terbangnya terhitung lamban. Namun Skua adalah pesawat Inggris pertama yang berhasil menembak jatuh pesawat Jerman dalam Perang Dunia II. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 26 September 1939 ketika tiga Skua dari kapal induk HMS Ark Royal berhasil menembak jatuh sebuah flying boat Dornier Do 18 di atas Laut Utara. Skua juga menjadi dive bomber pertama yang berhasil menenggelamkan kapal perang musuh dalam Perang Dunia II ketika pada bulan April 1940 kapal perang Konigsberg dari AL Jerman tenggelam di perairan Norwegia setelah mendapat serangan dari 16 pesawat Blackburn Skua AL Inggris.

Selain pertempuran di Norwegia,Blackburn Skua juga digunakan dalam pertempuran di Perancis dan Mediterania. Namun pesawat ini tidak mampu bertahan dari serbuan pesawat tempur Jerman seperti Me 109 dan banyak yang berhasil ditembak jatuh. Oleh karena itu maka pada tahun 1941 Skua ditarik dari skadron-skadron tempur garis depan dan digantikan oleh Fairey Fulmar. Skua kemudian digunakan oleh skadron-skadron latih AL Inggris sampai dengan tahun 1945.

Specifications (Skua Mk.II)
Crew : 2
Length : 10.85 m
Wingspan : 14.07 m
Height : 3.79 m
Empty weight : 2,490 kg
Loaded weight : 3,732 kg
Powerplant : 1 x 905 hp Bristol Perseus XII radial engine
Maximum speed : 362 km/h
Range : 1,287 km
Service ceiling : 6,157 m
Armament : 5 x 7.7mm machine guns and 1 x 227 kg (500 lb) bomb
More about Blackburn B-24 Skua

Amiot 354

Amiot 354

Amiot 354 adalah pesawat pembom AU Perancis yang dikembangkan dari pesawat pengangkut pos Amiot 351. Pesawat ini baru memasuki tahap produksi pada tahun 1940 sehingga jumlahnya sangat terbatas pada saat terjadi Battle of France.

Selama Battle of Frace, Amiot 345 lebih banyak digunakan sebagai pesawat intai bersenjata. Setelah Battle of France, pesawat ini kemudian digunakan sebagai pesawat transport oleh AU Jerman dan Vichy France sampai Perang Dunia II berakhir.

Specifications (Amiot 354 B4)
Crew : 4
Length : 14.50 m
Wingspan : 22.83 m
Height : 4.08 m
Empty weight : 4,735 kg
Loaded weight : 11,324 kg
Powerplant : 2 x 1,060 hp Gnome et Rhone 14N radial engines
Maximum speed : 480 km/h
Range : 3,502 km
Ceiling : 10,000 m
Armament : 3 x 7.5mm machine guns and up to 1,200 kg of bombs
More about Amiot 354

Caproni Ca.135

Caproni Ca.135

Caproni Ca.135 adalah medium bomber yang digunakan oleh Angkatan Udara Italia dan Hungaria dalam Perang Dunia II. Pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 1 April 1935 dan mulai digunakan secara operasional pada tahun 1936. Ca.135 hanya diproduksi sebanyak 140 unit.

Sama halnya sepeti sebagian besar pesawat militer buatan Italia pada tahun 1930-an, Ca.135 masih menggunakan konstruksi sayap yang terbuat dari kayu serta sebagian kulit pesawat yang masih terbuat dari bahan semacam kain. Sebagai medium bomber, performa Ca.135 termasuk mengecewakan karena mesin yang kurang bertenaga sehingga mengakibatkan kurangnya jarak tempuh dan ketinggian terbang. Oleh karena itu maka AU Italia bisa dikatakan tidak pernah menggunakan Ca.135 dalam pertempuran dan hanya menggunakannya sebagai pesawat latih sampai dengan tahun 1941. Memanng sebanyak tujuh unit bomber ini pernah dikirimkan untuk membantu pihak Nasionalis dalam Perang Saudara Spanyol, namun hanya dua pesawat yang berhasil tiba di Spanyol karena lima pesawat lainnya mengalami kerusakan teknis saat melakukan penerbangan menuju Spanyol. Dari lima pesawat tersebut, hanya dua yang berhasil mendarat kembali di Italia; sementara sisanya jatuh di lautan.

Hungaria adalah pengguna terbesar Ca.135 dan memiliki sekitar 100 unit pesawat ini, walaupun sebagian besar merupakan bekas pakai AU Italia. Ca.135 mulai digunakan oleh AU Hungaria pada tahun 1939 dan sama seperti AU Italia, sebenarnya pilot-pilot Hungaria banyak yang mengeluhkan kemampuan pesawat ini. Namun Hungaria tetap menggunakan Ca.135 karena pada saat tersebut hanyat pesawat itulah yang mereka miliki sebagai medium bomber. Ca.135 AU Hungaria digunakan dalam Perang Dunia II untuk membantu pasukan Jerman dalam pertempuran di front Rusia dari tahun 1941 sampai dengan tahun 1943. Sejak tahun 1943 Ca.135 Hungaria ditarik dari garis depan dan digantikan oleh Junkers Ju-88 buatan Jerman.

Selain Italia dan Hungaria, negara lainnya yang mengoperasikan Ca.135 adalah Peru. Peru mengoperasikan enam unit pesawat ini dari tahun 1937 sampai dengan tahun 1942. Ca.135 milik Peru sempat digunakan dalam perang perbatasan Peru dengan Ekuador pada tahun 1941.

Specifications (Ca.135bis)
Crew : 5
Length : 14.40 m
Wingspan : 18.75 m
Height : 3.40 m
Empty weight : 4,500 kg
Loaded weight : 8,500 kg
Powerplant : 2 x 1,000 hp Piaggio P.Xibis RC40 radial engines
Maximum speed : 440 km/h
Range : 1,200 km
Ceiling : 7,000 m
Armament : 3 x 12.7mm machine guns and up to 1,600 kg of bombs
More about Caproni Ca.135

Bloch MB.200

Bloch MB.200

Bloch MB.200 dirancang untuk memenuhi permintaan Angkatan Udara Perancis pada tahun 1932. Pesawat yang dirancang sebagai night bomber ini berhasil melakukan first flight pada bulan Juli 1933 dan mulai digunakan oleh AU Perancis pada tahun 1934. MB.200 dibuat sebanyak 332 unit.

Pada saat pecah Perang Dunia II, pesawat ini dianggap sudah ketinggalan jaman dan lebih banyak digunakan sebagai pesawat latih. Walaupun demikian, MB.200 masih melakukan beberapa misi pemboman terhadap pasukan Jerman. Setelah Battle of France, banyak pesawat ini yang direbut oleh Jerman dan kemudian diberikan kepada Cekoslovakian dan Bulgaria.

Pemerintahan Vichy France sendiri tetap mengoperasikan MB.200, bahkan sempat menggunakannya untuk membom pasukan Sekutu dalam pertempuran di Lebanon dan Suriah. MB.200 dipensiunkan pada awal tahun 1943, tidak lama setelah pendaratan pasukan Sekutu di Afrika Utara.

Specifications ( MB.200B.4)
Crew : 4
Length : 16.00 m
Wingspan : 22.45 m
Height : 3.90 m
Empty weight : 4,300 kg
Loaded weight : 7,480 kg
Powerplant : 2 x 870 hp Gnome Rhone 14Kirs radial engines
Maximum speed : 285 km/h
Range : 1,000 km
Service ceiling : 8,000 m
Armament : 3 x 7.5mm machine guns and up to 1,200 kg of bombs
More about Bloch MB.200

Blackburn Ripon

Blackburn Ripon

Blackburn Ripon dirancang sebagai torpedo bomber/reconnaissance bomber yang dapat dioperasikan dari atas kapal induk. Dibuat untuk memenuhi permintaan Angkatan Laut Inggris, pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 17 April 1926 dan dibuat sebanyak 92 unit.

Angkatan Laut Inggris mengoperasikan Blackburn Ripon dari tahun 1929 sampai dengan tahun 1935. Selain Inggris, pesawat ini juga dibuat secara lisensi oleh Finlandia. Sebanyak 25 unit Blackbur Ripon ikut digunakan dalam Perang Dunia II, bertempur melawan pasukan Uni Soviet sebelum kemudian akhirya dipensiunkan oleh AU Finlandia pada tahun 1944

Specifications (Ripon Mk.IIC)
Crew : 2
Length : 11.20 m
Wingspan : 13.67 m
Height : 3.91 m
Empty weight : 1,878 kg
Loaded weight : 3,310 kg
Powerplant : 1 x 570 hp Napier Lion X radial engine
Maximum speed : 179 km/h
Range : 660 km
Service ceiling : 3,050 m
Armament : 2 x 7.7mm machine guns, 1 x torpedo or up to 750 kg of bombs
More about Blackburn Ripon

Amiot 143

Amiot 143

Amiot 143 adalah medium bomber yang dibuat berdasarkan spesifikasi Angkatan Udara Perancis pada tahun 1928. Pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tahun 1931 dan mulai digunakan oleh AU Perancis pada bulan Juli 1935. Amiot 143 dibuat sebanyak 138 unit.

Walaupun desain dan spesifikasi pesawat ini sudah mulai ketinggalan jaman pada saat pecah Perang Dunia II, namun pesawat pembom ini masih merupakan salah satu kekuatan utama Angkatan Udara Perancis. Amiot 143 banyak digunakan untuk melakukan misi-misi pengintaian dan misi pemboman terhadap pasukan Jerman. Setelah Battle of France, sejumlah pesawat ini berhasil direbut oleh AU Jerman dan sisanya kemudian dioperasikan oleh AU Perancis di bawah pemerintahan Vichy France.
AU Jerman mengoperasikan Amiot 143 sebagai pesawat transport, sementara pemerintahan Vichy France mengoperasikan pesawat ini di wilayah koloni Perancis di Afrika Utara dan Timur Tengah. Setelah pendaratan pasukan Sekutu di Afrika Utara, Amiot 143 tetap dioperasikan oleh pasukan Perancis yang bergabung dengan Sekutu sampai dengan bulan Februari 1944.

Specifications (Amiot 143M)

Crew : 5
Length : 18.24 m
Wingspan : 24.53 m
Height : 5.68 m
Empty weight : 5,455 kg
Loaded weight : 8,611 kg
Powerplant : 2 x 858 hp Gnome et Rhone 14Kirs/jrs radial engines
Maximum speed : 295 km/h
Range : 1,300 km
Ceiling : 7,500 m
Armament : 4 x 7.5mm machine guns and up to 800 kg of bombs
More about Amiot 143

Aichi D1A “Susie”

Aichi D1A “Susie”

Aichi D1A adalah dive bomber Angkatan Laut Jepang yang terbang pertama kali pada tahun 1934. Pesawat dengan desain biplane ini dibuat sebanyak 590 unit.
D1A banyak digunakan dalam pertempuran di Cina sejak tahun 1937 sampai dengan tahun 1941. Pada tahun 1941 pesawat ini ditarik dari garis depan dan digunakan sebagai pesawat latih. Angkatan Laut Jepang mempensiunkan D1A pada tahun 1942.

Specifications (D1A2)
Crew : 2
Length : 9.30 m
Wingspan : 11.40 m
Height : 3.41 m
Empty weight : 1,516 kg
Loaded weight : 2,500 kg
Powerplant : 1 x 730 hp Nakajima Hikari 1 radial engine
Maximum speed : 309 km/h
Range : 927 km
Ceiling : 6,980 m
Armament : 3 x 7.77mm machine gun, 1 x 250 kg bomb, 2 x 30 kg bombs
More about Aichi D1A “Susie”

Aero A.11

Aero A.11

Aero A.11 adalah reconnaissance aircraft/light bomber buatan Cekoslovakia. Pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tahun 1925 dan dibuat sebanyak sekitar 250 unit.

Pada saat Cekoslovakia dikuasai Jerman dan pecah Perang Dunia II, Aero A.11 masih dalam status operasional walaupun lebih banyak digunakan sebagai pesawat latih. Finlandia tercatat sebagai satu-satunya pengguna Aero A.11 selain Cekoslovakia dan masih menggunakan pesawat ini untuk menghadapi invasi Uni Soviet dalam perang musim dingin 1939-1940.

Specifications ( A.11)
Crew : 2
Length : 8.20 m
Wingspan : 12.80 m
Height : 3.10 m
Empty weight : 1,080 kg
Loaded weight : 1,537 kg
Powerplant : 1 x 240 hp Walter W.IV radial engine
Maximum speed : 240 km/h
Range : 750 km
Service ceiling : 7,600 m
Armament : 3 x 7.7mm machine guns and up to 200 kg of bombs
More about Aero A.11

Aero A.100

Aero A.100

Aero A.100 adalah reconnaissance aircraft/light bomber yang dirancang sebagai pengganti Aero A.11. Pesawat yang berhasil melakukan first flight pada tahun 1933 ini dibuat sebanyak 44 unit.

Walaupun hanya dibuat dalam jumlah terbatas, tapi pesawat ini ikut digunakan dalam perang saudara Spanyol dan Perang Dunia II. Aero A.100 digunakan sebagai pesawat intai oleh Cekoslovakia dan Jerman dalam operasi milter di Uni Soviet. Pesawat ini dipensiunkan bersamaan dengan berakhirnya Perang Dunia II.

Specifications ( A.100)
Crew : 2
Length : 11.08 m
Wingspan : 14.70 m
Height : 3.60 m
Empty weight : 2,040 kg
Loaded weight : 3,220 kg
Powerplant : 1 x 740 hp Hispano-Suiza Vr-36 radial engine
Maximum speed : 270 km/h
Range : 900 km
Service ceiling : 6,500 m
Armament : 4 x 7.92mm machine guns and up to 600 kg of bombs
More about Aero A.100

D3A Val

D3A Val

D3A Val merupakan pesawat tempur AL Jepang yang digunakan untuk menyerang Pearl Harbor. Dengan membawa bom seberat 250 kg dan 60 kg yang terpasang di bawah sayapnya, D3A Val sanggup menghancurkan kapal-kapal perang yang berukuran besar. D3A Val diproduksi tahun 1936 dan merupakan pengganti dari pesawat biplane D1A2. Dengan mesin yang memiliki kemampuan 969 kW hingga sanggup melejit hingga mencapai kecepatan 1.300 km er jam serta tambahan tangki BBM cadangan D3A Val bisa berperan sebagai pesawat untuk misi tempur jarak jauh.
General characteristics

• Crew: Two (pilot and gunner)
• Length: 10.2 m (33 ft 5 in)
• Wingspan: 14.37 m (47 ft 2 in)
• Height: 3.85 m (12 ft 8 in)
• Wing area: 34.9 m² (375.6 ft²)
• Empty weight: 2,408 kg (5,309 lb)
• Max takeoff weight: 3,650 kg (8,047 lb)
• Powerplant: 1× Mitsubishi Kinsei 44, 798 kW (1,070 hp)
Performance
• Maximum speed: 389 km/h (205 kn, 242 mph)
• Range: 1,472 km (795 nmi, 915 mi)
• Service ceiling: 9,300 m (30,500 ft)
Armament
• 2 × fixed, forward-firing 7.7 mm (0.303 in) Type 97 machine guns
• 1 × flexible, rearward-firing 7.7 mm (0.303 in) Type 92 machine gun
• 1 × 250 kg (551 lb) or 2 × 60 kg (132 lb) bombs
More about D3A Val

Tu-95 Bear

Tu-95 Bear 'The COLD WAR LEGACY'

Tupolev Tu-95 yang oleh NATO di beri julukan Bear, merupakan pesawat tempur pembom strategis jarak jauh yang paling sukses dalam hitungan lama penugasan, pesawat yang mampu membawa peluru kendali dengan hulu ledak nuklir ini mulai terbang pertama kali sejak tahun 1952 dan akan tetap bertugas di AU Rusia dan AL Rusia hingga tahun 2040.

Pembom besar jarak jauh milik Soviet ini, dijuluki si Beruang. Dirancang untuk membawa sampai empat bom nuklir ke daratan AS dari pangkalan-pangkalan di Rusia. Diluncurkan pada pertunjukan udara Moskow pada tahun 1955, keberadaannya menjadi ancaman besar selama tiga decade bagi kekuatan barat.

Pesawat yang mempunyai 4 buah mesin penggerak turborprop Kuznetsov ini di produksi oleh pabrik pesawat terbang Tupolev sebagai pesawat pembom antar benua, pada awalnya pihak DEPHAN Amerika Serikat beserta sekutunya tidak begitu menganggap penting pesawat maut satu ini, semua itu disebabkan karena kemampuan dan spesifikasi pesawat yang biasa-biasa saja, ini bisa dimaklumi jika melihat kemampuan terbangnya yang hanya mampu melaju hingga kecepatan 400 mph atau 644 km/jam, yang jelas sekali sangat mudah untuk dicegat oleh para pesawat interseptor sekutu, ditambah lagi tingkat kebisingan yang di timbulkan oleh ke-4 mesin turboprop yang di pakai pesawat ini sehingga tidak begitu sulit bagi patroli pesawat maupun armada kapal laut sekutu untuk mendeteksi keberdaan pesawat Tupolev Tu-95.

Namun dengan kemampuan jarak tempuh terbang yang mencapai 7.800 mil atau 12.500 km, membuat pesawat ini cukup ampuh untuk melakukan misi pengeboman jarak jauh, karena kemampuannya inilah sekarang pesawat Tupolev Tu-95 banyak di gunakan sebagai pesawat patroli maritim jarak jauh oleh AU Rusia. Hingga saat ini produksi bomber berisik ini sudah mencapai angka 500 unit, namun dengan berjalannya waktum hanya tinggal beberapa unit saja yang beroperasi, diantara segelintir yang masih layak terbang itu tercatat 64 unit masih bertugas di AU Rusia dan 5 unit lagi di operasikan oleh AL India sebagai pesawat patroli maritim.
Powerplants: Tu-95MS - Four 11,035kW (14,795ehp) KKBM Kuznetsov NK-1 2MV turboprops, driving eight blade counter rotating propellers.

Performance: Tu-95MS - Max speed at 25,000ft 925km/h (500kt), at sea level 650km/h (350kt), cruising speed 710km/h (385kt). Ceiling 39,370ft. Radius with a 11,340kg (25,000lb) payload 6400km (3455nm). Weights: Tu-95MS - Empty 120,000kg (264,550lb), max takeoff 187,000kg (412,258lb).

Dimensions: Tu-95MS - Wing span 50.04m (1 64ft 2in), length 49.13m (161ft 2in), height 13.30m (43ft 8in). Wing area 289.9ml (3120sq ft). Accommodation: Seven crew - two pilots, comms operator, nav/ defensive systems operator, flight engineer, navigator and tail gunner.

Armament Tu-95MS - Up to six Kh-55 (AS-1 5A 'Kent') cruise missiles on a rotary launcher in the bomb bay.
More about Tu-95 Bear

Vickers Vimy

Vickers Vimy

Vickers Vimy dirancang oleh Reginald Vickers Kirshaw Pierson untuk mempersenjatai Inggris dalam WW1, pesawat ini pembom mampu melakukan terbang danbisa mencapai jauh ke wilayah Jerman. Vimy Vickers pertama terbang pada November 1917. The Vimy tetap aktif senbagai pembom RAF sampai 1929 dan kemudian digunakan sampai tahun 1938 sebagai target latihan.

Vickers Vimy di atas adalah pesawat yang digunakan oleh Alcock dan Brown untuk mememecahkan rekor penerbangan Transatlantic dan dipamerkan di Musium Sains London.

Spesifikasi:
Panjang: 43 ft 7 in (13,28 m)
Lebar sayap: 68 kaki 1 in (20,75 m)
Tinggi: 15 ft 8 in (4.77 m)
Area sayap: 1.330 ft ² (123,56 m²)
Berat kosong: £ 7.104 (3.222 kg)
Berat maksimum lepas landas: £ 10.884 (4.937 kg)
Mesin: Twin 360 hp (268,45 kW) Rolls-Royce Eagle VIII cair didinginkan mesin V12
Kecepatan maksimum: 100 mph (161 km / jam)
Range: 900 mil (1.448 km)
ketinggian maksimal 7.000 kaki (2.134 m)
More about Vickers Vimy

Douglas SBD-Dauntless

Douglas SBD-Dauntless

Dive bomber andalan AL dan Korps Marinir AS selama Perang Dunia II. Dengan pesawat pembom inilah AL AS meraih kemenangan besar dalam Battle of Midway, menenggelamkan empat kapal induk Jepang.

Para awak pesawat ini menjulukinya sebagai pesawat yang "Slow But Deadly"

Spesfikasi :
Crew : 2
Length : 10.08 m
Wingspan : 12.65 m
Height : 4.14 m
Weight : 2,905 kg empty ; 4,843 kg loaded
Powerplant : 1 x 1,200 hp Wright R-1820-60 radial engine
Maximum speed : 410 km/h
Range : 1,240 km
Service ceiling : 7,780 m
Armament :
2 x 0.50 cal machine guns
2 x 0.30 cal machine guns
up to 1,020 kg of bombs
More about Douglas SBD-Dauntless

Consolidated B-32 Dominator

Consolidated B-32 Dominator

Sebetulnya B-32 dipesan dan dikembangkan pada saat yang bersamaan dengan pengembangan B-29. Makanya lihat aja ekornya, mirip B-17/B-29 kan? Juga kokpitnya yang mirip B-24.

Namun pengembangannya mengalami masalah pada sistem persenjataan dan kokpit. Pesawat ini sebetulnya dirancang memiliki radio controlled turret gun dan pressurized cabin seperti pada B-29, namun ternyata Consolidated tidak bisa mengembangkan seperti apa yang diterapkan Boeing pada B-29. Walhasil B-32 menjadi tanggung, dengan sistem persenjataan bela diri sama seperti B-24 namun dengan kemampuan angkut bom sama dengan B-29.

Tapi karena B-29 operasional terlebih dahulu (dan cukup sukses), nasib B-32 yang tersendat-sendat pengembangannya pun berakhir. Hanya sempat dibuat sebanyak 115 unit dan baru dikirim ke skadron pembom pada bulan Maret 1945. Hanya sempat digunakan dalam 2-4 kali misi pemboman saja.

Spesifikasi B-32
Crew : 10
Powerplant : 4 x 2,300hp Wright R-3350-23 Duplex Cyclone
Wingspan : 41.15m
Leght : 25.33m
Height : 9.98m
Empty weight : 27,340kg
Loaded weight : 50,576kg
Maximum speed : 587km/h
Range : 4,815km
Service ceiling : 11,000m
Armament :
20 x 0.50 cal machine guns
up to 9,100kg of bombs
More about Consolidated B-32 Dominator

Avro Lancaster B-1

Avro Lancaster

Lancaster nggris adalah yang paling terkenal berat bomber dari Perang Dunia II. Mampu membawa bom yang memuat hingga 22.000 pound, Lancasters, terbang pada malam hari, di Jerman dan memghancurkan pabrik-pabrik.

Bomber Command sebagai favorit dari pesawat terbang, Lancaster yang telah banyak digunakan pada operasi khusus, seperti 1943-bendungan busting mogok dan Tirpitz tenggelamnya kapal raids. Tetapi keberhasilan Lancaster tak lepas dari pengorbanan yang besar, lebih dari 55.000 crewnya hilang dalam waktu yang berbeda dalam perang.

Specifications (Avro 683 Lancaster B.Mk I & III)
Type: Seven or Eight Seat Heavy Bomber
Design: Chief Designer Roy Chadwick and Managing Director Roy Dobson of A. V. Roe Aircraft Company Limited based on the Avro 679 Manchester design
Propellers: Hamilton-Standard or Rotol propellers. In later aircraft paddle-bladed Nash-Kelvinator propellers were used increasing the cruising speed by 8 mph (12.9 km/h) and the service ceiling by 1,500 ft (457 m). The airscrew shaft was a SBAC No. 5 type with a reduction gear ratio of 0.42:1.
Performance: (Early B.Mk I) Maximum speed 275 mph (443 km/h) at 15,000 ft (4572 m). (Late B.Mk I) Maximum speed 287 mph (462 km/h) at 11,500 ft (3505 m), 275 mph (443 km/h) at 15,000 ft (4572 m), 260 mph (419 km/h) at 19,400 ft (5913 m); cruising speed 234 mph (377 km/h) at 21,000 ft (6401 m), 200 mph (322 km/h) at 15,000 ft (4572 m); stalling speed (clean) 95 mph (153 km/h) at 60,000 lbs (27211 kg); normal service ceiling 23,000 ft (7010 m), nominal service ceiling 24,500 ft (7468 m); absolute service ceiling 24,671 ft (7500 m); climb to 20,000 ft (6096 m) in 41 minutes and 40 seconds; initial rate of climb 250 ft (76 m) per minute with full bombload. In a hard dive the prototype aircraft achieved speeds reaching almost 400 mph (644 km/h) with production aircraft (operational loadout) being limited to 360 mph (578 km/h).
Carburetion (Merlin): SU float carburettor, type AVT 40 / 241 / 216 / 224 / 227. American built Packard Merlins had the Bendix Stromberg pressure-injected type.

Ignition (Merlin): Two BTH C.5 SE12-S or Rotax NSE12-4 magnetos.

Fuel Capacity / Specification: A total of six fuel tanks consisting of two 580 Imperial gallon (703 US gallon or 2637 litre) inboard tanks, two 383 Imperial gallon (464 US gallon or 1740 litre) intermediate tanks and two 114 Imperial gallon (138 US gallon or 518 litre) outboard tanks giving the aircraft a total fuel capacity of 2,154 Imperial gallons (2,610.6 US gallons or 9790 litres). Provisions for one or two overload fuel tanks of 400 Imperial gallons (485 US gallons or 1818 litres) each could be carried in the bomb bay. Fuel specification 100 / 130 Grade DED 2475 (AN-F-28).
Defensive Armament: A total of ten 7.7 mm (0.303 in) Browning machine-guns in a nose, mid-upper, tail and ventral position.

* 2 × 7.7 mm (0.303 in) Browning Mk II trainable forward-firing machine-guns in the power-operated Frazer-Nash F.N.5A nose turret with 1,000 rounds per gun using a Barr & Stroud G Mk III reflector sight
* 2 × 7.7 mm (0.303 in) Browning Mk II trainable machine-guns in the power-operated Frazer-Nash F.N.50 (Boulton-Paul) dorsal turret with 1,000 rounds per gun using a Barr & Stroud G Mk IIIA reflector sight.
* 4 × 7.7 mm (0.303 in) Browning Mk II trainable rearward-firing machine-guns in the power-operated Frazer-Nash F.N.20A tail turret with 2,500 rounds per gun using a Barr & Stroud G Mk III reflector or Gyro Mk IIc sight.
* 2 x 7.7 mm (0.303 in) Browning Mk II trainable rearward firing machine-guns in a power-operated Frazer-Nash F.N.64 ventral turret with 500 rounds per gun using a periscopic sight. (This position did not have a dedicated gunner)

Variants: BT308 (first prototype), DG595 (second prototype), B.Mk I, B.Mk I Special (Grand Slam), B.Mk I FE (Far East), B.Mk II (Hercules engines), B.Mk III, B.Mk III Type 464 Special (Dambuster), B.Mk IV (renamed Lincoln Mk I), B.Mk V (renamed Lincoln Mk II), B.Mk VI, B.Mk VII, B.Mk VIII FE (Far East), B.Mk X (Canadian Built).
More about Avro Lancaster B-1

Ju-87 Stuka

Ju-87 Stuka, Pembom Tukik Penebar Sirene Teror

Tak banyak mesin perang yang bisa menimbulkan teror luar biasa baik pada tentara maupun warga sipil. Salah satunya adalah Junkers Ju-87 ‘Stuka’.

Stuka dirancang khusus sebagai pesawat pembom tukik dengan dua awak pesawat yang bertugas masing-masing sebagai pilot dan operator senapan mesin buritan. Disebut pembom tukik karena pesawat ini menjatuhkan bom muatannya sambil menukik ke arah bumi.

Stuka memperoleh reputasinya disebabkan bunyi sirene nyaring yang keluar bersamaan dengan manuver saat menukik. Suara meraung menakutkan yang dijuluki Terompet Jericho. Suara sirene inilah yang menjadi teror psikologis bagi siapapun yang disasar Stuka.

Penganjur pembuatan Stuka adalah Ernest Udet, seorang pilot sekaligus ‘Ace’ pada PD I dengan 62 kemenangan dog-fight. Udet berpendapat, armada pembom tukik mesti menjadi bagian dari kekuatan AU Jerman. Stuka pertama terbang pada 1935 dan telah berpartisipasi sejak awal PD II saat Jerman menginvasi Polandia pada 1939.

Pesawat ini mengadopsi sistem inovatif berupa ‘dive brakes’ yang akan membuat pesawat kembali pada posisi normal setelah melakukan tukikan untuk mengantisipasi pilot yang mengalami ‘blacked out’ (pingsan sesaat) akibat manuver dalam kecepatan tinggi. Stuka berperan sukses di pertempuran Afrika, Balkan, dan fase awal invasi ke Uni Sovyet.

Meski akurat dan tangguh, Stuka sangat rentan oleh pesawat-pesawat pemburu (fighter) sekutu. Ini dibuktikan saat Battle of Britain, banyak Stuka dirontokkan oleh pesawat-pesawat Inggris.

Seperti pesawat pembom pada umumnya, burung besi yang satu ini tak terlalu lincah bermanuver ditambah sistem persenjataan yang tak memadai. Satu-satunya senjata Stuka adalah senapan mesin kembar 7.92 mm yang dipasang di buritan, dipergunakan eksklusif sebagai pertahanan melawan pesawat musuh yang mendekat dari belakang.

Setelah Battle of Britain, pesawat ini mengalami beberapa penyempurnaan, hingga keluar varian baru seperti Ju-87D yang dikirim ke front Afrika dan Ju-87G yang ditugaskan ke front timur (Uni Sovyet). Ju 87G telah menenteng meriam kembar 37mm hingga mendapatkan reputasi sebagai pelumat tank karena kemampuannya menghancurkan kendaraan lapis baja itu.

Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang dimilikinya, Stuka tetap menjadi momok menakutkan. Hans-Ulrich Rudel, seorang pilot Luftwaffe (AU Jerman) tercatat berhasil menenggelamkan tiga kapal sekutu -masing-masing sebuah ‘battleship’, ‘destroyer’, dan ‘cruiser’- ditambah melumat 519 kendaraan lapis baja (mayoritas tank).

Selama perang, sekitar 5.709 Stuka telah diproduksi dan memberikan kontribusi hampir di semua front pertempuran
More about Ju-87 Stuka