Grumman F5F Skyrocket

Grumman F5F Skyrocket

SEJARAH & RANCANG BANGUN

Pada tahun 1938, Grumman menyampaikan proposal kepada Angkatan Laut untuk sebuah pemburu bermesin ganda berbasis Kapal Induk. Pengajuan desain dari proposal G-34, desain pesawat itu tidak seperti pesawat yang pernah dipertimbangkan sebelumnya oleh USN. Konsep dari Grumman menyodorkan bobot yang ringan (di bawah 10.000 lbs, berat maksimum lepas landas) & pesawat dibekali dengan dua mesin Wright R-1820 bertenaga 1.200 hp. Berwujud pesawat udara sayap tunggal dengan konfigurasi sayap rendah (low wing), serta panjang sayap yang lebih panjang dari badan pesawat itu sendiri. Pada bagian ekor pesawat yang ternyata sangat pendek, rancang bangunnya itu tidak seperti layaknya bentuk ekor datar dari Bomber B-25 Mitchell, tetapi dengan menaikkan sudutnya yang difungsikan sebagai stabilizer horizontal. Baling-baling diarahkan berputar ke arah yang berlawanan untuk meredam efek dari torsi mesin. Roda ekor sepenuhnya dapat ditarik ke dalam tubuh pesawat. Persenjataan yang diusulkan adalah dua meriam Madsen kaliber 23mm.

PROTOTYPE

Pada 30 Juni 1938, Angkatan Laut memesan satu prototipe, dengan pemberian kode awal XF5F-1. Prototipe pertama mengudara untuk pertama kalinya pada hari April Mop, tahun 1940. Prototipe XF5F-1 menunjukkan prestasi terbang yang baik, mencapai kecepatan maksimum 383mph pada 20.000 kaki. Punya kemampuan menanjak yang lebih baik dari saudaranya, F4F Wildcat. Meskipun dilakukan beberapa modifikasi tambahan, Grumman gagal untuk mendapatkan pesanan produksi dari Angkatan Laut. Sebuah versi yang berbeda dengan hidung panjang dan landing gear roda tiga dibangun untuk Korps Udara Angkatan Darat dengan kode XP-50, walaupun hanya satu prototipe yang dibuat. Bagaimanapun, investasi waktu dan uang yang dihabiskan untuk pembangunan XF5F-1 dan XP-50 itu tidaklah sia-sia. Pesawat ini memberikan data-data dasar yang akan diaplikasikan pada proposal Grumman G-51, yang kelak menjadi pesawat F7F Tigercat. Sementara itu, XF5F-1 berlanjut dalam tugas R&D sampai akhir 1944.

DATA TEKNIS
Tipe : Fighter
Kru : 1, Pilot
Persenjataan : 2 kanon Madsen kaliber 23mm (usulan)

Spesifikasi :
Panjang : 28 '8,5 "
Bobot : 11 '4 "
Lebar sayap : 42 '0 "
Area sayap : 303,5 kaki
Berat Kosong : 8.107 lb
Berat Maksimum : 10.138 lb

Propulsi :
Jumlah Mesin : 2
Mesin : Wright XR-1820-40/42
Tenaga kuda : masing-masing 1200 hp.

Kinerja:
Jangkauan : 1.200 mil
Kecepatan Jelajah : 210 mph
Kecepatan Maksimum : 383 mph
Keinggian : 33.000 kaki
More about Grumman F5F Skyrocket

KRI Yos Sudarso (353)

KRI Yos Sudarso (353)

KRI Yos Sudarso (353) merupakan kapal ketiga dari kapal perang kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali Kelas Ahmad Yani milik TNI AL. Dinamai menurut Yos Sudarso, salah seorang pahlawan nasional yang gugur diatas KRI Macan Tutul dalam pertempuran laut Aru pada masa kampanye Trikora.

KRI Yos Sudarso merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (F803) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk diantaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) ) Mistral menggantikan Sea Cat.

Bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara.
Termasuk dalam kelas Ahmad Yani bersama KRI Yos Sudarso antara lain KRI Ahmad Yani (351), KRI Slamet Riyadi (352), KRI Oswald Siahaan (354) KRI Abdul Halim Perdana Kusuma (355) dan KRI Karel Satsuit Tubun (356).

KRI Yos Sudarso menembakkan Rudal permukan-ke-udara Sea Cat dalam sebuah latihan
Karier (ID)

Pembuat:
Koninklijke Maatschappij de Schelde
Mulai dibuat:
25 Juli 1963
Diluncurkan:
19 Juni 1965
Dibeli:
1987
Nama sebelumnya:
Hr. Ms. Van Galen (F 803)
Status:

Karakteristik umum
Berat benanam:
2835 ton
Panjang:
113,4 x 12,5 x 4,2 meter
Lebar:
12,5 meter
Draught:
Unknown
Tenaga penggerak:
30.000 hp
Kecepatan:
28,5 knot
Awak kapal:
183
Persenjataan:
2 x 11,4 cm meriam
2 x Seacat
1 x bom anti kapal selam
6 x mk 44 torpedo
1 x helikopter

1. Data Teknis
KRI Yos Sudarso memiliki berat 2,940 ton. Dengan dimensi 113,42 meter x 12,51 meter x 4,57 meter. Ditenagai oleh turbin uap dengan 2 boiler, 2 shaft yang menghasilkan 30,000 shp sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 28,5 knot. Diawaki oleh maksimal 180 pelaut.

2. Persenjataan
KRI Yos Sudarso dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :
1. 8 Peluru Kendali Permukaan-ke-permukaan NPO Mashinostroyeniya SS-N-26 Yakhont dengan jangkauan maksimum 300 Km , berkecepatan 2,5 mach, berpemandu active-passive radar seeker dengan hulu ledak seberat 250 Kg.
2. 4 Peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral dalam peluncur Simbad laras ganda sebagai pertahanan anti serangan udara. Jangkauan efektif 4 Km (2,2 mil laut), berpemandu infra merah dengan hulu ledak 3 Kg. Berkemampuan anti pesawat udara, helikopter dan rudal.
3. 1 Meriam OTO-Melara 76/62 compact berkaliber 76mm (3 inchi) dengan kecepatan tembakan 85 rpm, jangkauan 16 Km untuk target permukaan dan 12 Km untuk target udara.
4. 2 Senapan mesin 12.7mm
5. 12 Torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.

3. Sensor dan elektronis
KRI Yos Sudarso diperlengkapi radar LW-03 2-D air search, sonar PHS-32. Juga diperlengkapi dengan kontrol penembakan (fire control) M-44 SAM control serta perangkat perang elektronik UA-8/9 intercept. Sebagai pertahanan diri mempunyai 2 peluncur decoy RL.

4. Penerbangan
Memiliki dek untuk 1 helikopter yang sebelumnya adalah Westland Wasp HAS 1 (kini pensiun) dengan fungsi sebagai heli anti kapal selam. Mungkin kini diganti dengan NBO-105 atau NAS 332L Super Puma.

5. Operasi
Pada tanggal 10 hingga 11 Maret KRI Yos Sudarso 353 tergabung dalam satgas Aru Jaya melakukan operasi penghalauan terhadap kapal ferry Lusitania "si bedhes" Expresso yang bermaksud menuju Dilli, Timor timur tanpa ijin. Operasi berhasil dilakukan tanpa ada peluru yang ditembakkan.
More about KRI Yos Sudarso (353)

Pesawat Stealth Bird of Pray

Pesawat Stealth Bird of Pray

Namanya juga negara adidaya, tak hanya urusan politik saja yang dibayangi oleh kerahasiaan, soal teknologi, utamanya yang berkaitan dengan militer juga setali tiga uang. Tak percaya? Lihat saja apa yang dilakukan AS di pelataran pabrikan pesawat kondang Boeing, St. Louis pada 18 Oktober lalu. Bukannya roll out sebuah pesawat jenis terbaru melainkan peluncuran pertama di depan publik sebuah pesawat demonstrator rahasianya.

Kalau dicermati kata-kata "peluncuran pertama di depan publik" plus "rahasia", berarti burung besi ini sebenarnya telah lama ada namun diharamkan untuk diketahui khalayak ramai. Dan memang benar, seperti yang disebutkan dalam siaran pers Boeing (18/10), ternyata hasil karya Boeing Phantom Works bernama Bird of Prey ini telah berwujud sejak 1996. Bila menengok lebih ke belakang lagi diceritakan bahwa Pemerintah AS mesti mengucurkan dana sebesar 67 juta dollar AS agar program tersebut bisa dijalankan Boeing mulai 1992 hingga 1999. Sejak awalnya berwujud, Bird of Prey telah melakukan 38 kali uji terbang. Dari penerbangan itu tak diceritakan kendala atau adanya musibah dalam pengujian.

Lantas sekarang apa tujuannya? Kembali merujuk pada keterangan Boeing, Bird of Prey sebenarnya adalah pionir bagi pesawat-pesawat berteknologi siluman (stealth) dan berancang-bangun revolusioner namun layak operasional. Dengan basis platform ini pulalah maka AU AS sekarang mampu mewujudkan kekuatan pesawat tempur siluman.

Secara teknis Bird of Prey mengadopsi konfigurasi kursi tunggal, struktur komposit monokok, peralatan pendukung lapangan yang ekonomis, dan berdimensi mirip pesawat asli. Untuk menghela pesawat sepanjang 47 kaki, rentang sayap 23 kaki, dan berat 7.400 pon, Boeing mengandalkan sebuah mesin turbofan JT15D-5C. Hasilnya, Bird of Prey sanggup melesat hingga kecepatan 260 knots dengan ketinggian maksimal 20.000 kaki.

Tak hanya berhenti begitu saja, saat ini Boeing mengakui menggunakan cetak biru Bird of Prey untuk program selanjutnya. Program dimaksud adalah pengembangan pesawat nir awak berkemampuan tempur (UCAV), X-45A.
More about Pesawat Stealth Bird of Pray

Panzerkampfwagen V 'Panther'

Panzerkampfwagen V 'Panther', Hasil Jiplakan Nazi Jerman Atas Tank Rusia T-34!

Tank Panther didesain mengikuti bentuk tank Soviet T-34 yang cukup efektif dalam meningkatkan proteksi terhadap peluru tank musuh yakni armor bagian hull depan dan sampingnya dibuat sloped/miring, teknik ini efektif untuk meningkatkan keselamatan dan kemungkinan peluru musuh memantul.

Awalnya terdapat dua pabrikan menyodorkan Prototype Panther yakni Daimler-Benz (DB) dan Maschinenfabrik Augsburg-Nürnberg AG (MAN) yakni VK3002. Masing-masing memiliki kemiripan dengan desain T-34 Soviet, pabrikan DB menyodorkan versi pembesaran dari T-34 Soviet yakni turret ditempatkan pada bagian depan hull, sedangkan MAN lebih memilih menempatkan turret di bagian tengah hull. Setelah keduanya mengikuti test lapangan prototype MAN menang dan masuk tahap produksi massal. Kemenangan prototype MAN didasarkan pada penilaian performa yang lebih baik dan untuk menghindari friendly fire (prototype DB dinilai dapat menyebabkan kebingungan di lapangan karena mirip T-34 Soviet)

Bobot Panther mencapai 45.500kg, lebih ringan dibanding Tiger yang mencapai 55.000kg. Penyebabnya adalah Panther menekankan proteksi bagian depan dan mengorbankan bagian samping dan belakang. Bagian depan Panther yakni baja setebal 100m dapat menahan hampir semua jenis senjata musuh pada jarak 1.000m, namun bagian samping Panther yang hanya memiliki ketebalan baja 40mm mudah sekali ditembus oleh senjata standar tank sekutu macam kanon 3 inch, 75mm/76mm Sherman. Perakitan Panther memakai sistem interlock layaknya tank2-tank Jerman lainnya. Dan pada varian Late Panther memakai stell wheel guna menghemat pemakainan baja dan karet

Senjata utama Panther adalah kanon laras panjang KWK 42 L/70 kaliber 75mm, konon pada saat test senjata ini memiliki daya tembus yang mematikan. Laras Panther dibuat panjang untuk memaksimumkan kekuatan peluru yang ditembakkan. Senjata tambahan lainnya adalah dua buah machine gun MG34 7.92mm yang berfungsi menghalau infantri lawan, pada versi selanjutnya Panther memiliki machine gun anti pesawat yang dipasang di cupola

Mesin Panther mengandalkan Maybach HL230 P30 yang memiliki kinerja buruk. Pada Panther versi awal sering sekali mesin ini terbakar karena panas mesin, setelah muncul versi baru mesin tersebut masalah itu hilang namun tetap saja mesin tersebut dianggap terlalu lemah untuk menggerakan Panther.

Panther memiliki berbagai varian, mulai dari
-Panther D (versi awal)
-Panther A (versi Mid)
-Panther G (versi Late dengan steel Wheel)
-BergePanther : keperluan recovery tanpa turret
-Beobachtungspanzer V : Panther untuk misi pengintaian dan observasi, dengan senjata palsu
-Befehlspanzer Panther : Panther khusus komando
-Jagdpanther : Panther versi Tank Destroyer, tanpa turret dilengkapi kanon PAK 43/3 / L/71 kaliber 88mm
-Ersatz M10 Panther G : Panther G dengan bentuk M10 tank US, digunakan untuk mengelabuhi sekutu pada "Battle of the Bulge"
-Night Fighting Panther : Panther yang dilengkapi alat Infra-Red sehingga dapat melihat dengan jelas di malam hari
-Panther F : varian Late yang belum sempat diproduksi, menggunakan kanon 88

Total produksi Panther mencapai 4500-6000 unit diproduksi hingga akhir perang.

Panther pertama kali terlibat pertempuran di Kursk 5 July 1943. Saat pertama kali diterjunkan Panther menemui banyak masalah, mulai dari track dan suspensi yang sering rusak sampai mesin yang sering terbakar. Contohnya seperti yang terjadi pada XLVIII Panzer Corps,10 July 1943, hanya 38 Panther yang siap beroperasi 131 lainnya menunggu perbaikan dari total 200 Panther yang diterima tanggal 5 July 1943. Namun hasil pertempuran Kursk cukup menaikkan nama Panther dengan menghancurkan 263 tank Soviet.

Pada saat pertempuran front timur, senjata tank T-34 Soviet (kanon kaliber 76.2 mm) tidak dapat menembus lapisan baja Panther dari depan, awak T-34 perlu menebak Panhter dari samping untuk dapat menghancurkannya. Panther dapat menghancurkan T-34 dengan telak dari jarak 2.000m. Namun di pertengahan perang muncul varian T-34/85 yang memiliki kanon kaliber 85mm yang dapat melumpuhkan Panther dari jarak 500m, malang bagi Jerman, Soviet memproduksi varian ini secara massal. Tank lainnya milik Soviet yang cukup menakutkan bagi Jerman adalah varian IS-2 dengan kanon kaliber 122mm dapat menembus baja hull bagian depan Panther.

Di front barat Panther menemui masalah berat, lebih banyak tank Panther yang hancur akibat pesawat serang darat sekutu macam Typhoon dibandingkan oleh tank sekutu. Saat itu langit Eropa telah dikuasai sekutu, AU Jerman hampir tidak bisa menahan kekuatan udara sekutu yang terus menerus menyerang unit-unit darat Jerman. Sehingga kerap kali saat Panther berkonvoi komandan tank Panther bersiaga di cupola dengan senapan mesin anti pesawat.

Walaupun demikian reputasi tank Panther dapat disamakan dengan tank Tiger. Walaupun Jerman menggolongkan Panther sebagai medium tank namun kerap kali sekutu memasukan tank Panther ke kelas yang sama dengan tank Tiger, yakni heavy tank. Dan Panther cukup ditakuti tank-tank sekutu karena Panther memiliki kecepatan lebih tinggi dari Tiger, dan sering kali menyerang secara ambush.

Tank terberat sekutu waktu itu yakni Pershing dengan kanon kaliber 90mm masih memiliki kesulitan menembus armor depan Panther, walaupun demikian tank ini lebih efektif dibandingkan dengan tank Sherman yang tak mampu menghancurkan Panther dari depan. Dalam pertempuran melawan tank sekutu Panther menjadi andalan, walaupun demikian yang paling ditakuti oleh awak tank panther bukanlah tank musuh melainkan pesawat serang darat musuh. Sehingga awak tank Jerman diberikan kebebasan untuk mengecat kamuflase tanknya sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Rata-rata Panther keluar dari pabrikan dengan warna kuning tua, namun dilapangan ditambahkan warna hijau dan coklat untuk mencegah warna yang menyolok terlihat dari udara. Kamuflase yang cukup terkenal adalah kamuflase ambush.

Kamuflase ambush memiliki 3 warna yakni dark yellow, red brown, dan dark green disertai totol2 diseluruh tubuh Panther. Kamuflase ini efektif saat Panther berada dalam kondisi statis maupun di medan hutan-hutan.

Dalam "Battle of the Bulge" dimana Jerman yang terus menerus terdesak mundur sejak sekutu mendarat di Eropa, tiba-tiba pada Desember 1944 melancarkan serangan balasan di pergunungan Ardennes Belgia. Jerman mendesak sekutu mundur hingga 80 Kilometer sehingga jika dilihat di peta daerah Jerman membentuk tonjolan. Disini Jerman mengerahkan unit-unit khususnya yakni tank-tank dan prajurit yang disamarkan mirip dengan milik sekutu. Beberapa tank Jerman seperti tank Panther diubah sedemikian rupa sehingga menyerupai M-10 tank Amerika untuk kemudian disusupkan ke garis belakang sekutu. Namun sayang bagi Jerman siasat tersebut gagal. Seluruh tank Jerman berhasil dihancurkan sekutu.

Pada saat perang berakhir tank-tank Panther masih digunakan oleh Prancis., Inggris dan Soviet!

Tipe: Medium tank
Pengguna: Nazi Jerman
Masa tugas: 1943 - 1945 (Nazi Jerman)
Prancis (setelah perang)
Perang: Perang Dunia II

Sejarah Produksi
Perancang: MAN AG
Dirancang: 1942
Diproduksi: 1942 - 1945
Jumlah yang pernah diproduksi: 4500 - 6000

Spesifikasi
Berat: 45.500kg
Panjang: 6.87 m, 8.66 m dengan tambahan meriam
Lebar: 3.42 m
Tinggi: 2.99 m
Kru: 5 (Driver, radio-operator, commander, gunner, loader)

Lapisan Baja
Baja meriam: 100mm
Bagian depan: 80 mm
Turet samping dan belakang 40-45 mm
Atas/bawah: 25 mm

Senjata utama: 1x 7.5 cm KwK 42 L/70 (79 peluru)
Senjata tambahan: 2× 7.92 mm Maschinengewehr 34 (5.100 peluru)
Mesin: V-12 bensin Maybach HL230 P30
700 PS (690 hp, 515 kW)
Kekuatan: 16 hp (12 kW)/tonne
Suspensi : double torsion bar, interleaved road wheels
Jarak operasional: 250 km
Kecepatan: 55 km/jam (model awal), 46 km/jam (model akhir)
More about Panzerkampfwagen V 'Panther'

U-Boat type VIIC

U-Boat type VIIC Kapal Selam AL Nazi

U-Boat type VIIC. Merupakan sub varian kapal selam yang paling banyak di pakai AL Nazi (Krigsmarine) selama PDII. Mosnter bahwa laut Bangsa Aria ini terlibat dalam pertempuran Atlantik. Sub varian pertama dari keluarga besar kapal selam Type VII adalah Type VIIA yang di produksi sekitar 10 unit begitu PD I usai. Generasi penerusnya, yaitu type VIIB, punya beberapa perbedaan. Badannya berukuran lebih panjang dua meter ketimbang sang pendahulu. Al Hasil daya tampung BBM dan torpedo jadi lebih besar . Demikian pula dengan urusan mesin. Lebih bertenaga. Perombakan kembali di lakukan ketika VIIC mulai diracik pada tahun 1936. Kali ini penambahan dua terpedo ekstra satu-satunya perubahan. Di perkirakan tak kurang dari 700 unit U-Boat type VII pernah dibuat.

Kehidupan kru U-Boat type II tergolong keras penyebabnya tak lain karena kapal tak di lengkapi dengan sistem pengondisian udara yang mumpuni. Saat kapal di gelar di daerah tropis macam karibia, suhu di dalam ruang mencapai 35 derajat celcius, sebaliknya ketika ia mondar-mandir di wilayah pantai timur Amerika, suhu ruang bisa anjlok hingga 1 Derajat Celcius.

U-Boat type VII punya propeller kembar bersumber tenaga disel. Dengan modal tersebut maka kapa; bisa diajak berlayar hingga kecepatan 17,5 knots. Keampuhan yang pada masanya dianggap lebih dari cukup buat mengejar konvoi kapal suplai sekutu.

Ruang mesin terbilang sempit untuk ukuran sekarang. Padahal situ terdapat dua mesin diesel serta sebuah mesin elektrik. Sementara itu pipa saluran udara disusupkan melalui anjungan. Lantas diteruskan ke atas hingga menyerupai tiang yang cukup tinggi. Ini semua adalah trik agar kapal selam bisa bernafas di kedalaman yang dirasa aman. Mesin dieselnya di fungsikan ketika berlayar sedangkan motor elektrik baru aktif saat kapal menyelam.

Pada bagian atas anjungan terdapat semacam pos pengamatan. Bagian ini lazim disebut dengan nama conning tower. Saat berlayar di permukaan, umumnya empat orang akan di tempatkan di conning tower. Mereka mendapat tugas mengamati kemungkinan adanya target di keempat penjru dengan bantuan teropong. Cara model begini memang harus di pakai. Pasalnya type VII tak memiliki radar sama sekali.

Ruang kendali sepanjang enam meter di tempatkan di belakang kompartemen perwira. Bila di bedah jauh, dibagian tengah ruangan terdapat tabung silinder yang dilengkapi tangga. Ini merupakan jalan menuju ruang bagian dalam conning tower. Disini terdapat mesin telegraph, pos helmet, dan periskop serang.

U-Boat type VIII punya empat tabung torpedo di bagian haluan. Sementara sebuah lagi di taruh di bagian depan kapal. Sisanya yaitu sebuah torpedo di tempatkan di bagian belakang.

Dari semua senjata yang di usung, sesungguhnya kunci keberhasilan armada U-boat hanya satu. Mereka punya bayangan (Silhouette) yang amat rendah ketika mereka akan menghabisi targetnya di malam hari atau saat laut bergelombang . lawan di tanggung bakal kesulitan untuk mengetahui posisi U-Boat.
More about U-Boat type VIIC

Kapal Perang Cepat Kelas Laba-Labaper

Kapal Perang Cepat Kelas Laba-Laba untuk Keperluan Anti Kapal Selam

Bagi AL Soviet, konsep mempertahankan wilayah pantai dari terobosan kapal asing rupanya benar-benar telah mendarah daging . Alhasil wajar saja bila negeri ini punya daftar panjang tipe kapal cepat. Dari sekian banyak yang ada, salah satunya adalah Fast Attack Craft (FAC) kelas Pauk.

Pauk atau diartikan dari bahasa Rusia adalah laba-laba. Sesuai dengan aturan AL Soviet kapal ini termasuk jenis kapal MPK ( Maly Protivolodohny Korabl) atau kapal kecil untuk keperluan Antikapal selam. Sesuai dengan konsep pertahanan maritim yang dianut, Pauk dirancang untuk menghalau kemungkinan penyusupan kapal selam asing di wilayah Pantai Soviet.

Pertama kali dipergoki pengamat militer barat pada tahun 1980, kapal ini merupakan kapal perang anti kapal selam terkecil yang pernah dibuat. Merujuk pada silsilahnya, Pauk dilansir guna menggantikan posisi kelas Poti.

SENJATA SPESIAL
Sesuai peruntukannya Pauk memang di bekali dengan beragam senjata maupun perangkat kapal selam. Dimensi kapal yang terbatas tak jadi halangan baginya untuk mengusung sonar model celup (dipping sonar) maupun sonar terpasang pada lambung.

Sekarang bergeser ke soal persenjataan secara garis besar ada dua tipikal senjata yang di bawa. Golongan pertama adalah senjata khusus keperluan antikapal selam. Daftarnya cukup panjang. saat mengejar sasarannya bisa di pastikan empat torpedo kaliber 406 mm dengan sistem pemandu akustik jadi andalannya. Sementara mortir anti kapal selam RBU-1200 kaliber 250 mm terasa lebih ampuh melumat target pada jarak dekat. Terakhir bila memergoki kapal selam musuh yang sedang bersembunyi maka itu artinya merupakan jatah bom-bom dalam (depth charge). Setiap kapal dilengkapi dengan sepasang rel pelepas bom dalam. Fasilitas ini terdapat di bagian buritan kapal.

Senjata golongan kedua yang juga melengkapi Pauk adalah Arsenal anti pesawat. Sebagai pertahanan titik kapal dilengkapi dengan pelontar rudal anti pesawat SAN-5. Selain rudal masih ada lagi sepucuk meriam kaliber 3 inci di dek depan plus kubah kanon gatling AK-630 Kaliber 30 mm. Senjata multilaras ini tertanam di belakang menara.

Selain itu dikabarkan bahwa pihak AL, kapal sejenis juga pernah dioperasikan oleh Dinas Intelijen Soviet, KGB

Selain itu ada beberapa peralatan yang di usung kapal jenis ini antara lain
1. Kubah meriam fungsi ganda (DP) kaliber 3 Inci
2. Antena VHF (Kode NATO : Sprage Star)
3. Pelontar Mortir RBU - 1200
4. Tabung Terpedo kaliber 406 mm
5. Fire Kontrol Kanon Gatting (Kode Nato Base Tilt)
6. Antena IFF (Kode Nato Squere Head)
7. Radar Permukaan (Kode Nato Peel Cone)
8. Antena Multi Frekuensi
9. Kubah Kanon gatling AK-630
10. Rel Peluncur Bom Dalam (Depth Charge)
More about Kapal Perang Cepat Kelas Laba-Labaper

Hughes H-4 Hercules

Hughes H-4 Hercules

Hughes H-4 Hercules merupakan kapal terbang terbesar yang pernah dibuat dalam sejarah umat manusia. Ini juga merupakan pesawat dengan rentang sayap terbesar yang pernah terbang.

Pesawat ini dibangun pertama kali saat Perang Dunia II masih berlangsung. Pembuatan pesawat ini rampung pada 2 November 1947, dan hanya sempat terbang satu kali sebelum akhirnya pensiun.

Pesawat raksasa itu dibuat oleh perusahaan Hughes Aircraft, dengan konstruksi dari bahan kayu. Huges H-4 berukuran panjang 218 kaki atau 66,65 meter, memiliki rentang sayap 319 kaki (97,54 meter), tinggi 24,18 meter, dan dapat membawa beban 180.000 kilogram (400.000 pons) sejauh 3.000 mil.

Karena alasan sulitnya proses produksi, H-4 kemudian dipensiunkan, dan saat ini dipajang di Evergreen Aviation Museum di McMinnville, Oregon, Amerika Serikat.
More about Hughes H-4 Hercules