Bom Napalm

Bom Napalm

Bom jenis ini sebenarnya sudah dipake oleh pihak sekutu pada tahun 1944 ketika digunakan untuk menekan pasukan Nazi Jerman yang sudah sangat terdesak. Bom ini berbeda dengan jenis bom-bom konvensional lainnya, dimana daya hancurnya sangat mengerikan, ibarat seperti disiram oleh lautan api yang sangat dahsyat. Bom ini juga digunakan di perang Vietnam untuk menghancurkan dan membakar pemukiman gerilyawan Vietcong yang bersembunyi di balik lebatnya hutan vietnam. Yang digunakan di vietnam sebenarnya berbeda dengan digunakan pada Perang Dunia II, dimana daya bakarnya jauh lebih lama (hingga 10 menit!) sehingga daya rusaknya jauh mengerikan. Dan suhu yang tercipta dari pembakarannya hingga mencapai 1.200 derajat celcius! Sungguh mengerikan...

Tersusun dari unsur low-octane gasoline, benzene dan polystyrene, bom jenis ini jadi jauh lebih berbahaya manakala pembuatannyapun sangat mudah sehingga orang biasa saja bisa membuatnya! Karena itulah senjata ini akan sangat berbahaya bila jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
More about Bom Napalm

M24 Chaffee Light Tank

M24 Chaffee Light Tank

M24 adalah tank ringan buatan AS yang digunakan pada masa-masa akhir Perang Dunia II dan merupakan tank ringan terbaik yang digunakan dalam Perang Dunia II. Tank ini diberi nama Chaffee untuk mengenang Jenderal Adna R. Chaffer Jr, salah satu tokoh yang mengembangkan konsep pasukan lapis baja di Angkatan Darat AS dan dikenal sebagai “Father of The Armored Forces.”

Pada saat Perang Dunia II, tank ringan yang digunakan oleh pasukan AS adalah tank M3/M5 Stuart. Walaupun masih terus digunakan hingga akhir Perang Dunia II, namun pada tahun 1943 dirasakan perlunya ada tank ringan baru yang lebih handal. Semula direncanakan hanya untuk mengganti persenjataan tank M5A1 dengan meriam kaliber 75mm, namun hasil uji coba menunjukkan hal tersebut tidak mungkin sehingga diputuskan untuk merancang tank ringan baru yang akhirnya menghasilkan tank ringan M24 Chaffe pada tahun 1944.

Karena dirancang pada masa-masa akhir Perang Dunia II, M24 lebih mengakomodasi perkembangan teknologi yang ada dan tank ini dianggap sebagai lompatan teknologi jika dibandingkan dengan tank M3 atau M5A1 yang akan digantikannya. M24 diawaki lima orang dan memiliki berat 18,3 ton. Menggunakan dua mesin bensin Cadillac 44T24 yang masing-masing berkekuatan 110 tenaga kuda, tank ini memiliki kecepatan maksimum 54 km/jam dengan jarak tempuh 160 km. Jika tank-tank ringan lainnya hanya dipersenjatai dengan meriam kaliber 37mm, maka M24 dipersenjatai dengan meriam M6 kaliber 75mm (48 butir amunisi). Selain itu, tank ini juga dipersenjatai dengan dua pucuk senapan mesin Browning M1919A4 kaliber 0.30 (3.750 butir amunisi) dan sepucuk senapan mesin Browning M2HB kaliber 0.50 (440 butir amunisi).

M24 mulai digunakan pada akhir tahun 1944 oleh pasukan AS di Eropa. Dalam Battle of the Bulge, sejumlah tank ini digunakan untuk menahan serangan Jerman dan terbukti sukses di lapangan. Walaupun lapisan baja tank ini tidak terlalu tebal, namun tank ini jauh lebih cepat dan lincah dibandingkan dengan tank M5A1. M24 banyak digunakan untuk tugas-tugas intai dan dengan meriam kaliber 75mm yang digunakannya, tank ini juga mampu bertempur melawan kendaraan lapis baja Jerman dan memberikan bantuan tembakan bagi pasukan infantri. Namun karena tergolong sebagai tank baru, maka tidak semua pasukan AS di Eropa menerima tank ini. Bahkan tidak sedikit unit-unit pasukan AS yang baru menerima tank ini setelah perang selesai.

Usainya Perang Dunia II bukan berarti akhir bagi tank yang diproduksi sebanyak 4.070 unit ini. Tank ini kemudian banyak dipergunakan oleh negara-negara lain seperti Perancis dan Pakistan. AS masih menggunakan tank ini dalam Perang Korea, sementara Perancis menggunakan tank ini dalam operasi militer di Indo China. Sepuluh unit M24 digunakan Perancis dalam Battle of Dien Bien Phu. Tank-tank M24 Perancis yang tersisa di Indo China kemudia dialihkan kepada pasukan Vietnam Selatan, yang menggunakannya pada masa-masa awal Perang Vietnam. Sementara itu Paksitan menggunakan M24dalam perang dengan India pada tahun 1971.

Beberapa negara juga kemudian memodifikasi tank ini dan mengoperasikannya hingga puluhan tahun setelah Perang Dunia II usai. Misalnya saja milik Norwegia yang dimodifikasi menjadi NM-116 Panserjager (dengan mesin diesel, fire control modern, serta meriam kaliber 90mm buatan Perancis) dan digunakan hingga tahun 1993. Sementara M24 milik Chili dimodifikasi dengan persenjataan kanon IM-OTO kaliber 60mm dan digunakan hingga tahun 1999. M24 hasil modifikasi milik pasukan Uruguay bahkan masih digunakan hingga saat ini.
More about M24 Chaffee Light Tank

Finnish Lahti L-39

Finnish Lahti L-39 Anti-tank rifle

Lahti L-39 merupakan Anti-material/Anti-tank rifle yang cukup terkenal dan digunakan pada era perang dunia 2, mempunyai sebutan "ELEPHANT GUN" (Yang mungkin juga cocok dengan penampilannya yang gede) mempunya bobot berkisar 50kg dan selama perang diproduksi sebanyak 1900...pembuatnya Aimo Lahti pada awalnya hanya akan membuat Anti-tank rifle dengan kaliber berkisar 13mm, namun setelah beberapa uji coba pada akhirna kaliber 13mm diganti menjadi kaliber 20mm..karena kekuatan penetrasinya yang jauh lebih baik dibanding kaliber 13mm...

pada saat Finlandia turun dalam palagan perang dunia 2, L-39 hrus berhadapan dengan tank soviet sejenis T-34 & KV-1...namun ternyata L-39 kurang efektif untuk melayani kedua jenis tank tersebut, sehingga L-39 dialihkan penggunaan nya dari AT-Rifle menjadi penghancur Bunker/persembunyian, penembakan jarak jauh, hingga penangkis serangan udara..

Saat ini Lahti L-39 masih digunakan dalam skala kecil dan juga disimpan di museum seperti museum Sgt. Richard Penry Medal of Honor Memorial Military Museum di Petaluma, California...
More about Finnish Lahti L-39

SAIC/ATI Vigilante

SAIC/ATI Vigilante

Ikut berpartisipasi dalam demonstrasi VTOL UAV AL pada 1998, Vigilante dimulai sebagai optionally piloted vehicle (OPV) yang dapat diterbangkan dengan tiga mode, yaitu diawaki, remote pilot atau sistem kontrol misi/autopilot pintar. Dikembangkan secara bersama oleh SAIC (Science Applications International Corporation) dan ATI (Advanced Technologies Inc.), Vigilante didasarkan pada desain helikopter ekperimental Ultrasport Model 496 (dikembangkan oleh divisi American Sportscopter milik ATI), dua tempat duduk dengan sebuah mesin Hirth 95hp yang mampu mengangkut beban 260 kg. Pada awalnya, pesawat ini dibuat untuk Ballistic Missile Defense Organization (BMDO) dan Jet Propulsion Laboratory (JPL) yang menghasilkan pesawat tanpa awak stabil untuk memonitor pengujian misil anti-balistik. Diberi kode Vigilante 496, setelah dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan AL.

Karena banyaknya masalah kendali penerbangan pada Vigilante 496 di tahun 1998, ATI dan SAIC melakukan pengembangan pada UAV ini dengan kode baru Vigilante 500, model dengan kendali penerbangan yang disempurnakan, dengan bodi yang lebih kecil untuk mengurangi “drag” (gaya seret), perbaikan efisiensi dan untuk mengurangi cross section pada radar. 

Mesin berbehan bakar besar yang dibutuhkan AL juga sedang direncanakan, dan pesawat ini diberi nama ulang menjadi Vigilante 600. Vigilante diharapkan mempunyai ketahanan terbang selama 16 jam, dengan radius operasi 925 km dan kecepatan maksimal 250 km/jam. SAIC akhirnya memutuskan untuk tidak menandatangani proposal untuk kompetisi VTUAV karena jumlah kontrak yang terlalu kecil. Akan tetapi Vigilante akan digunakan sebagai pesawat demonstrasi terbang NASA untuk menguji penerbangan helikopter “swashplateless" dan memperoleh penghargaan dalam program Revolutionary Concepts (REVCON).
More about SAIC/ATI Vigilante

HMAS Manoora

HMAS Manoora

HMAS Manoora L52 merupakan kapal perang bekas pakai Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Fairfax County jenis Landing Ship Tank (LST) kelas Newport Landing Ship. Kapal ini dibuat 1971 dengan mesin dan teknologi era tahun 1950-an dan disain era tahun 1960-an. AL Australia (RAN/ Royal Australia Navy) mengakuisisi USS Saginaw dari kelas yang sama, diubah menjadi HMAS Kanimbla L51. RAN mengolongkan kedua kapal ini sebagai kelas Kanimbla.

HMAS Manoora dan HMAS Kanimbla berbobot 8500 ton ditenagai 6 mesin diesel 16v ALCO 251C yang mampu dipacu hingga 20 knot. Kedua kapal mampu mengangkut 450 prajurit bersenjata lengkap berikut kendaraan dan peralatannya; dilengkapi fasilitas ruang kelas untuk pelatihan personil ADF selama berlayar; mampu membawa empat unit helikopter Blackhawk milik AD atau tiga unit Sea King milik AL sedangkan landasan helikopter mampu menampung dua unit helikopter serta dilengkapi fasilitas untuk dukungan pekerjaan perbaikan pesawat; tersedia rumah sakit dengan 40 tempat tidur berikut fasilitas operasi dan pemulihan, dimana dapat digunakan untuk bantuan kemanusian korban bencana alam atau operasi evakuasi warga negara Australia di luar negeri; dua kapal jenis LCM-8 (Landing Craft Medium) diletakkan di depan kapal; kapal hanya dipersenjatai sepucuk Phalanx Mk 15 CIWS kaliber 20 mm sebagai senjata bela diri dari serangan rudal atau pesawat.

Setelah pasukan diturunkan dari kapal, kedua kapal masih dapat memberikan supplai logistik pada pasukan di darat. Kapal mampu memproduksi ratusan liter air bersih hasil pengolahan air laut setiap harinya. Sistim Komando, Kontrol dan Komunikasi (K3) dapat digunakan oleh Komandan Pasukan mengendalikan operasi dari kapal.
More about HMAS Manoora

Hotchkiss H39

Hotchkiss H39

Tank ringan buatan Perancis ini adalah pengembangan dari tank Hotckiss H35. Diawaki tiga orang (commander, gunner, driver) dan dipersenjatai dengan sepucuk kanon SA 18 kaliber 37mm (100 butir peluru) dan sepucuk senapan mesin Reibel kaliber 7,5mm (2.400 butir peluru).

Hotchkiss H39 banyak dipergunakan dalam masa-masa awal Perang Dunia II. Polandia menggunakan tank ringan ini menghadapi invasi Jerman pada tahun 1939, sementara Perancis mempergunakannya dalam Battle of France tahun 1940. Tank ini juga dipakai oleh pasukan Norwegia, sementara Finlandia juga menggunakan tank ini untuk menghadapi pasukan Uni Soviet.

Setelah Perancis jatuh, Jerman juga menggunakan tank ini untuk tugas-tugas keamanan dan juga menggunakannya dalam Operasi Barbarossa. Sementara di Timur Tengah tank ini dipakai oleh pasukan Vichy France yang sempat mempergunakannya untuk menghadapi pendaratan pasukan Sekutu di Afrika Utara.

Usai Perang Dunia II, Pasukan Perancis masih menggunakannya untuk tugas-tugas keamanan sampai dengan tahun 1952. Pada tahun 1948, sedikitnya sebanyak 10 unit tank ini dijual secara rahasia kepada milisi Israel yang kemudian mempergunakannya dalam Perang Arab-Israel tahun 1948. Tank ini digunakan oleh milisi Yahudi asal Rusia dan karena kesulitan amunisi, pasukan Israel mengganti senapan mesin Reibel kaliber 7,5mm dengan senapan mesin Besa kaliber 7,9mm

Spesifikasi
Crew : 3
Armament :
Main : 1 x 37mm gun
Co-axial : 1 x 7.5mm machine gun
Length : 4.22m
Width : 1.95m
Height : 2.15m
Weight : 12,100 kg
Engine : 1 x 120 hp Hotchkiss 6 cylineder
Maximum speed : 37km/h
Range : 120km
More about Hotchkiss H39

Tu-95 Bear

Tu-95 Bear 'The COLD WAR LEGACY'

Tupolev Tu-95 yang oleh NATO di beri julukan Bear, merupakan pesawat tempur pembom strategis jarak jauh yang paling sukses dalam hitungan lama penugasan, pesawat yang mampu membawa peluru kendali dengan hulu ledak nuklir ini mulai terbang pertama kali sejak tahun 1952 dan akan tetap bertugas di AU Rusia dan AL Rusia hingga tahun 2040.

Pembom besar jarak jauh milik Soviet ini, dijuluki si Beruang. Dirancang untuk membawa sampai empat bom nuklir ke daratan AS dari pangkalan-pangkalan di Rusia. Diluncurkan pada pertunjukan udara Moskow pada tahun 1955, keberadaannya menjadi ancaman besar selama tiga decade bagi kekuatan barat.

Pesawat yang mempunyai 4 buah mesin penggerak turborprop Kuznetsov ini di produksi oleh pabrik pesawat terbang Tupolev sebagai pesawat pembom antar benua, pada awalnya pihak DEPHAN Amerika Serikat beserta sekutunya tidak begitu menganggap penting pesawat maut satu ini, semua itu disebabkan karena kemampuan dan spesifikasi pesawat yang biasa-biasa saja, ini bisa dimaklumi jika melihat kemampuan terbangnya yang hanya mampu melaju hingga kecepatan 400 mph atau 644 km/jam, yang jelas sekali sangat mudah untuk dicegat oleh para pesawat interseptor sekutu, ditambah lagi tingkat kebisingan yang di timbulkan oleh ke-4 mesin turboprop yang di pakai pesawat ini sehingga tidak begitu sulit bagi patroli pesawat maupun armada kapal laut sekutu untuk mendeteksi keberdaan pesawat Tupolev Tu-95.

Namun dengan kemampuan jarak tempuh terbang yang mencapai 7.800 mil atau 12.500 km, membuat pesawat ini cukup ampuh untuk melakukan misi pengeboman jarak jauh, karena kemampuannya inilah sekarang pesawat Tupolev Tu-95 banyak di gunakan sebagai pesawat patroli maritim jarak jauh oleh AU Rusia. Hingga saat ini produksi bomber berisik ini sudah mencapai angka 500 unit, namun dengan berjalannya waktum hanya tinggal beberapa unit saja yang beroperasi, diantara segelintir yang masih layak terbang itu tercatat 64 unit masih bertugas di AU Rusia dan 5 unit lagi di operasikan oleh AL India sebagai pesawat patroli maritim.
Powerplants: Tu-95MS - Four 11,035kW (14,795ehp) KKBM Kuznetsov NK-1 2MV turboprops, driving eight blade counter rotating propellers.

Performance: Tu-95MS - Max speed at 25,000ft 925km/h (500kt), at sea level 650km/h (350kt), cruising speed 710km/h (385kt). Ceiling 39,370ft. Radius with a 11,340kg (25,000lb) payload 6400km (3455nm). Weights: Tu-95MS - Empty 120,000kg (264,550lb), max takeoff 187,000kg (412,258lb).

Dimensions: Tu-95MS - Wing span 50.04m (1 64ft 2in), length 49.13m (161ft 2in), height 13.30m (43ft 8in). Wing area 289.9ml (3120sq ft). Accommodation: Seven crew - two pilots, comms operator, nav/ defensive systems operator, flight engineer, navigator and tail gunner.

Armament Tu-95MS - Up to six Kh-55 (AS-1 5A 'Kent') cruise missiles on a rotary launcher in the bomb bay.
More about Tu-95 Bear