F-16 Fighting Falcon Multi-Role Fighter

General Dynamics (now Lockheed Martin) F-16 Fighting Falcon Multi-Role Fighter

Deskripsi:
Dianggap oleh kebanyakan orang sebagai pesawat tempur tebaik pada masanya, F-16 merupakan salah satu desain pesawat tempur paling popular di dunia. F-16 pada awalnya dibuat di bawah program Pesawat Tembur Berbobot Ringan (Light Weight Fighter=LWF) pada awal 1970an yang mencari suku cadang yang lebih murah bagi F-15 untuk meningkatkan manuverabilitas dab misi serang taktis. Terangsang oleh ketertarikan negara lain pada produksi model ini, LWF dirubah menjadi program Air Combat Fighter (ACF) dan menjadi kompetisi “fly-off” antara General Dynamics YF-16 dan Northrop's YF-17. General Dinamics kemudian menjadi pemenang kompetisi itu pada 1975 dan mendapatkan kontrak untuk memproduksi F-16. AU AS berencana untuk membeli sampai 650 pesawat sebagai pengganti F-105 dan sebagian F-4, sementara beberapa sekutu NATO membeli F-16 sebagai pengganti F-104.

Walaupun sebenarnya pesawat ini dirancang sebagai pesawat serang darat (ground attack) dengan kemampuan sekunder pertahanan udara, ternyata F-16 kemudian diluncurkan sebagai pesawat multi-peran. Desainnya menggunakan sayap ruang variable (variable chamber wings) dan “leading edge strakes” untuk menghasilkan daya angkat yang lebih tinggi dan menghindari “root stall” walaupun pada “high angles of attack”. Sebagai tambahan, penggunaan sistem kontrol “fly-by-wire” yang dapat membelokkan permukaan kontrol jauh lebih cepat dari pada pilot membuat F-16 mempunyai manuverabilitas yang luar biasa. F-16 juga dilengkapi dengan peralatan avionic canggih dan beban persenjataan yang besar.

F-16 sampai sekarang tetap mengalami update dan pengembangan pada model produksinya. Evolusi bertahap pada kemampuan pesawat ditunjukkan dengan sebuah seri “blok numbers” yang melakukan upgrade software, sistem persenjataan, struktur dan sistem lain untuk menggantikan peralatan yang usang. Model produksi F-16A/B awal terdiri dari Blok 10 dan 15 yang menampilkan pengembangan struktur, radar baru dan penambahan daya angkut senjata.

Pengembangan besar juga terjadi dengan peluncuran F-16C/D yang mencakup seri Blok 25, 30/32 dan 40/42. Upgrade dalam model ini termasuk mesin baru, radar yang lebih baik dengan kemampuan serangan malam presisi, dan kompabilitas dengan peralatan canggih yang selalu berkembang seperti “senjata pintar”. Model akir pesawat ini yang dibeli oleh AS menggunakan Blok 50/52 dengan pengembangan untuk melakukan “tekanan hebat” (suppression) pada misi pertahanan udara musuh.

Walaupun tidak ada lagi produksi untuk AS, F-16 terus dibuat untuk model ekspor. Model terbarunya adalah F-16E/F Block 60 yang dibuat untuk Uni Emirat Arab. Seri ini mempunyai radar AESA dan kapasitas bahan bakar yang lebih besar untuk meningkatkan jarak jangkau dan daya tahan (endurance).

Vesatilitas, kemampuan dan harganya yang relative rendah membuat F-16 menjadi pesawat yang dipakai secara luas di dunia barat sejak F-86. Lebih dari 4.000 F-16 telah dibuat untuk 24 negara. F-16 telah mengalami banyak pertempuran, paling terkenal yaitu di Timur Tengah ketika F-16 bertempur di atas Lebanon dan Irak. F-16 milik Pakistan juga telah disibukkan dengan menembak jatuh beberapa pesawat Soviet selama Perang Afghan 1980an dan sering kali bertempur dengan pesawat milik India.
Produksi berlanjutan dan usaha upgrade terus-menerus menjamin F-16 tetap beroperasi dengan baik pada abad ke-21. AS berencana memakai F-16 sampai 2025, hingga pesawat ini digantikan oleh F-35 (JSF). Sebagian besar konsumen F-16 juga diharapkan akan mengganti F-16 mereka menjadi F-35 pada dua dekade mendatang.

HISTORY:
First Flight: (YF-16) 2 February 1974; (F-16A) 8 December 1976
Service Entry: 17 August 1978

CREW: (F-16A/C) one: pilot; (F-16B/D) two: pilot, instructor

ESTIMATED COST: (F-16A/B) $14.6 million [1998$]; (F-16C/D) $18.8 million [1998$]

AIRFOIL SECTIONS:
Wing Root: NACA 64A204
Wing Tip: NACA 64A204

DIMENSIONS:
Length: 49.33 ft (15.03 m)
Wingspan: 31.00 ft (9.45 m)
Height: 16.33 ft (5.09 m)
Wing Area: 300.0 ft² (27.88 m²)
Canard Area: not applicable

WEIGHTS:
Empty: 18,725 lb (8,495 kg)
Normal Takeoff: 23,765 lb (10,780 kg)
Max Takeoff: 37,500 lb (17,010 kg)
Fuel Capacity: internal: 7,160 lb (3,255 kg); external: 6,950 lb (3,160 kg) in two 370 gal (1,400 L) and one 300 gal (1,135 L) tanks; 8,015 lb (3,645 kg) in two 600 gal (2,270 L) tanks
Max Payload: 17,200 lb (7,800 kg) [normal]; 20,450 lb (9,275 kg) [theoretical limit]

PROPULSION:
Powerplant: one General Electric F100-100 or one Pratt & Whitney F100-220 afterburning turbofan
Thrust: 29,100 lb (129.4 kN) with afterburner

PERFORMANCE:
Max Level Speed: at altitude: 1,350 mph (2,175 km/h) at 40,000 ft (12,190 m), Mach 2.05; at sea level: 915 mph (1,460 km/h), Mach 1.2
Initial Climb Rate: 50,000 ft (15,239 m) / min
Service Ceiling: 50,000 ft (15,239 m)
Range: typical: 540 nm (1,000 km); ferry: 2,100 nm (3,890 km)
g-Limits: +9.0

ARMAMENT:
Gun: one 20-mm M61A1 Vulcan cannon (511 rds)
Stations: seven to nine external hardpoints and two wingtip rails
Air-to-Air Missile: AIM-7 Sparrow/Skyflash, AIM-9 Sidewinder, AIM-120 AMRAAM, AIM-132 ASRAAM, Magic II, MICA, Python 3
Air-to-Surface Missile: AGM-45 Shrike, AGM-65 Maverick, AGM-84 Harpoon, AGM-88 HARM, AGM-119 Penguin, Wasp, AS.30L
Bomb: GBU-10/12/24 Paveway laser-guided, GBU-15, B43 nuclear, Mk 82/83/84 GP, Mk 20 Rockeye, BLU-107 Durandal, CBU-52/58/71/87/89/97 cluster, BL-755, BLU-109, Mk 36 Destructor
Other: ECM pods, navigation pods, targeting pods, rocket pods, gun pods, autonomous free-flight dispenser system
More about F-16 Fighting Falcon Multi-Role Fighter

Dassault-Breguet Super Etendard

Dassault-Breguet Super Etendard

Super Etendard adalah hasil pengembangan dari pesawat tempur Etendard IV. Prototype pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 28 Oktober 1974 dan mulai digunakan secara operasional pada tahun 1978. Super Etendard hanya dibuat sebanyak 85 unit, 74 unit dioperasikan oleh Angkatan Laut Perancis dan sisanya digunakan oleh Angkatan Laut Argentina.

Dibandingkan dengan Etendard IV, Super Etendard memiliki banyak kelebihan seperti penggunaan mesin turbojet SNECMA Atar 8K-50 dan radar buatan Thomson-CSF. Dengan radar dan avionik yang lebih modern dibandingkan dengan Etendard IV, Super Etendard memiliki kemampuan untuk meluncurkan peluru kendali anti kapal AM 39 Exocet atau peluru kendali dengan hulu ledak nuklir ASMP buatan Aerospatiale.

Nama Super Etendard menjadi terkenal ketika digunakan oleh Angkatan Laut Argentina dalam Perang Falkland (atau yang juga sering disebut sebagai Perang Malvinas) pada tahun 1982 yang juga menjadi debut Super Etendard dalam pertempuran. Angkatan Laut Argentina semula memesan tambahan A-4 Skyhawk dari Amerika Serikat, namun pesanan Argentina ditolak dengan alasah pelanggaran HAM oleh junta militer yang berkuasa di Argentina. Argentina pun kemudian membeli 14 unit Super Etendard dari Perancis, namun pada saat Perang Falkland AL Argentina baru menerima lima unit Super Etendard dan lima pucuk peluru kendali AM 39 Exocet.

Walaupun dengan jumlah terbatas, namun Super Etendard dengan peluru kendali AM 39 Exocet ternyata merupakan mimpi buruk bagi Angkatan Laut Inggris. Super Etendard AL Argentina dengan sukses berhasil menenggelamkan kapal perang HMS Sheffield dan kapal barang SS Atlantic Conveyor. Bahkan Super Etendard AL Argentina juga dikabarkan sempat merusak kapal induk HMS Invincible, walaupun klaim tersebut dibantah oleh AL Inggris. Sampai saat ini AL Argentina masih mengoperasikan Super Etendard.

Angkatan Laut Perancis sendiri mengoperasikan Super Etendard dari atas kapal induk Foch dan Clemencau. Super Etendard milik Perancis sempat digunakan dalam operasi militer pasukan perdamaian di Lebanon pada tahun 1982-1984 dan operasi militer NATO di daerah Balkan tahun 1994-1999. Walaupun saat ini AL Perancis sudah menggunakan kapal induk Charles de Gaulle dan mengoperasikan pesawat tempur Rafale, namun Super Etendard masih digunakan dalam operasi militer untuk mendukung pasukan Perancis di Afghanistan. AL Perancis sendiri secara bertahap sudah mempensiunkan Super Etendard dan menggantinya dengan Rafale M. Super Etendard terakhir milik Perancis direncanakan akan dipensiunkan pada tahun 2015.

Selain Angkatan Laut Argentina dan Perancis. Sebetulnya Angkatan Udara Irak juga pernah tercatat sebagai pengguna Super Etendard. AU Irak pernah menyewa lima unit Super Etendard sebagai pengisi kekuatan sementara sambil menunggu datangnya Mirage F1 yang dibeli dari Perancis. AU Irak menggunakan Super Etendard dalam Perang Irak-Iran, namun kemudian hanya mengembalikan tiga unit pesawat kepada Perancis karena dua unit lainnya berhasil ditembak jatuh oleh Iran.

Specifications (Super Etendard)
Crew : 1
Powerplant : 1 x 49.0 kN SNECMA Atar 8K-50 turbojet engine
Length : 14.31m
Wingspan : 9.60m
Height : 3.86m
Weight empty : 6,500 kg
Maximum take-off weight : 12,000 kg
Maximum speed : 1,180 km/h
Range : 1,820 km
Service ceiling : 13,700m
Armament : 2 x 30mm Hispano DEFA 552 cannons; up to 2,100 kg (4,600 lb) of bombs, rockets, or missiles
More about Dassault-Breguet Super Etendard

Kapal Selam Changbogo

Kapal Selam Changbogo

Secara teknis, Changbogo Class adalah lisensi dari U-209/1200 yang dibuat oleh pabrik Daewoo Shipbuilding Korea Selatan. Daewoo Shipbuilding sudah membuat 9 kapal selam sejenis untuk angkatan laut Korea Selatan. U-209 sendiri didesain untuk menghancurkan kapal selam lawan, kapal permukaan, melindungi pangkalan kawan, dan misi pengintaian. Secara umum Changbogo Class serupa dengan Atilay Class Submarine milik Turki yang memiliki penekanan pada penggunaan sistem sensor dan persenjataan buatan Jerman.

Pada saat menyelam, kapal selam ini dapat menyelam sampai kedalaman 250 m. Dengan dilengkapi dengan 4 MTU mesin diesel, kapal selam ini dapat melaju dengan kecepatan maksimum 21 knots (posisi menyelam) dan 11 knots (posisi permukaan). Kapal ini dapat membawa 8 buah 533mm/21 inch torpedo di haluan dan dipersenjatai dengan total 14 torpedo atau 28 ranjau laut. Kapal selam ini juga mampu untuk beroperasi secara terus menerus selama 2 bulan dengan 40 orang kru. Di bawah ini merupakan tabel spesifikasi teknis dari Changbogo Class :

Entered service : 1993
Crew: 33 men
Diving depth (operational) : 250 m

Dimensions and displacement

Length : 56 m
Beam : 6.2 m
Draught : 5.5 m
Surfaced displacement : 1 100 tons
Submerged displacement : 1 285 tons

Propulsion and speed

Surfaced speed : 11 knots
Submerged speed : 22 knots
Diesel engines : 4 x 3 810 hp
Electric motors : 1 x 4 595 hp

Armament

Torpedoes : 8 x 533-mm bow tubes for 14 torpedoes
Other : 28 mines in place of the torpedoes
More about Kapal Selam Changbogo

Aichi D1A “Susie”

Aichi D1A “Susie”

Aichi D1A adalah dive bomber Angkatan Laut Jepang yang terbang pertama kali pada tahun 1934. Pesawat dengan desain biplane ini dibuat sebanyak 590 unit.
D1A banyak digunakan dalam pertempuran di Cina sejak tahun 1937 sampai dengan tahun 1941. Pada tahun 1941 pesawat ini ditarik dari garis depan dan digunakan sebagai pesawat latih. Angkatan Laut Jepang mempensiunkan D1A pada tahun 1942.

Specifications (D1A2)
Crew : 2
Length : 9.30 m
Wingspan : 11.40 m
Height : 3.41 m
Empty weight : 1,516 kg
Loaded weight : 2,500 kg
Powerplant : 1 x 730 hp Nakajima Hikari 1 radial engine
Maximum speed : 309 km/h
Range : 927 km
Ceiling : 6,980 m
Armament : 3 x 7.77mm machine gun, 1 x 250 kg bomb, 2 x 30 kg bombs
More about Aichi D1A “Susie”

Aero A.11

Aero A.11

Aero A.11 adalah reconnaissance aircraft/light bomber buatan Cekoslovakia. Pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tahun 1925 dan dibuat sebanyak sekitar 250 unit.

Pada saat Cekoslovakia dikuasai Jerman dan pecah Perang Dunia II, Aero A.11 masih dalam status operasional walaupun lebih banyak digunakan sebagai pesawat latih. Finlandia tercatat sebagai satu-satunya pengguna Aero A.11 selain Cekoslovakia dan masih menggunakan pesawat ini untuk menghadapi invasi Uni Soviet dalam perang musim dingin 1939-1940.

Specifications ( A.11)
Crew : 2
Length : 8.20 m
Wingspan : 12.80 m
Height : 3.10 m
Empty weight : 1,080 kg
Loaded weight : 1,537 kg
Powerplant : 1 x 240 hp Walter W.IV radial engine
Maximum speed : 240 km/h
Range : 750 km
Service ceiling : 7,600 m
Armament : 3 x 7.7mm machine guns and up to 200 kg of bombs
More about Aero A.11

Aero A.100

Aero A.100

Aero A.100 adalah reconnaissance aircraft/light bomber yang dirancang sebagai pengganti Aero A.11. Pesawat yang berhasil melakukan first flight pada tahun 1933 ini dibuat sebanyak 44 unit.

Walaupun hanya dibuat dalam jumlah terbatas, tapi pesawat ini ikut digunakan dalam perang saudara Spanyol dan Perang Dunia II. Aero A.100 digunakan sebagai pesawat intai oleh Cekoslovakia dan Jerman dalam operasi milter di Uni Soviet. Pesawat ini dipensiunkan bersamaan dengan berakhirnya Perang Dunia II.

Specifications ( A.100)
Crew : 2
Length : 11.08 m
Wingspan : 14.70 m
Height : 3.60 m
Empty weight : 2,040 kg
Loaded weight : 3,220 kg
Powerplant : 1 x 740 hp Hispano-Suiza Vr-36 radial engine
Maximum speed : 270 km/h
Range : 900 km
Service ceiling : 6,500 m
Armament : 4 x 7.92mm machine guns and up to 600 kg of bombs
More about Aero A.100

Styx : Rudal Anti Kapal Pertama TNI AL

Styx : Rudal Anti Kapal Pertama TNI AL

Rasanya nyaris terlupakan, jauh-jauh hari sebelum TNI AL mengoperasikan rudal anti kapal modern, macam keluarga Exocet, Harpoon, C-802 dan Yakhont, di masa revolusi awal tahun 60-an, TNI AL nyatanya juga sudah memiliki rudal anti kapal. Sesuai iklim politik pada saat itu, pasokan alutsista modern kala itu dipasok oleh Uni Soviet dan negara-negara pakta Warsawa lainnya. Rudal anti kapal pertama yang dioperasikan TNI AL adalah P-15 Termit, atau dalam kode NATO disebut sebagai Styx (SS-N-2). 

Sytx didatangkan waktu itu guna keperluan kampanye militer dalam operasi Trikora merebut Irian Jaya. Sebagai rudal anti kapal yang lahir di era perang dingin, Styx dirancang dengan kemampuan dan daya hancur tinggi, tak ayal Styx memang punya daya deteren amat tinggi di era tersebut. Indikatornya bisa dilihat dari berat hulu ledaknya yang mencapai 500 kg high explosive, sementara bobot rudal secara keseleruhan 2,340 kg dengan jangkauan efektif mencapai 40 km, meski dalam teorinya bisa mencapai jarak 80 km.

Styx diluncurkan dengan beberapa pilihan sistem pemandu, mulai dari auto pilot, acitive radar, hingga pemandu berdasarkan infra merah. Untuk opsi pemandu radar biasanya didukung perangkat Electronic Support Measures (ESM) dan radar Garpun yang akan menuntun rudal antara jarak 5,5 dan 27 km dari batas target. Sensor pembidik pada rudal akan aktif mulai 11 km dari target sasaran, saat itu posisi rudal akan turun 1-2 derajat dari level target. Rudal maut ini umumnya meluncur sekitar 120 hingga 300 meter dari permukaan laut dengan kecepatan sub sonic 0,9 mach.

Walau saat didengungkannya operasi Trikora TNI AL juga mengoperasikan kapal penjelajah berat, KRI Irian, tapi Styx justru hadir dalam platform kapal cepat berpeluru kendali (fast attack craft missile) kelas Komar. Kapal cepat kelas Komar didatangkan TNI AL dari Uni Soviet pada periode 1961 – 1965. Jumlah yang dimiliki TNI AL pun cukup siginifikan, yakni mencapai 12 kapal yang masuk dalam jajaran armada KCR (Kapal Cepar Roket/Rudal) sebutan populer pada saat itu.

Masing-masing kapal dapat membawa 2 unit rudal, nama-nama kapal kelas Komar TNI AL diambil dari nama senjata dari cerita pewayangan, yakni KRI Kelaplintah (601), KRI Kalmisani (602), KRI Sarpawasesa (603), KRI Sarpamina (604), KRI Pulanggeni (605), KRI Kalanada (606), KRI Hardadedali (607), KRI Sarotama (608), KRI Ratjabala (609), KRI Tristusta (610), KRI Nagapasa (611) dan KRI Gwawidjaja (612). Sebagai kapal cepat berudal, kelas Komar diawaki secara terbatas oleh 10 – 11 personel.
Dengan 4 mesin sub diesel, kelas Komar dapat ngebut hingga kecepatan 30 knot. Tidak ada informasi berapa unit Styx yang dimiliki TNI AL. Tapi dalam hitung-hitungan standar, idealnya dengan 12 kapal setidaknya TNI AL memilliki minimal 24 unit rudal Styx. ”Sayang” hingga akhir masa baktinya Styx di Indonesia belum pernah membuktikan kesaktiannya secara langsung, walau bila dicermati alutisista ini juga berperan dalam kampanye militer “perang urat saraf” yang membuat nyali Belanda ciut. 

Dari beberapa informasi, kapal cepat kelas Komar ternyata masih dioperasikan TNI AL hingga tahun 1978. Sebuah usia yang lumayan panjang untuk kelas kapal dari Uni Soviet, mengingat beberapa alutsista sejawat asal Uni Soviet sudah keburu di grounded akibat embargo suku cadang. Bahkan informasi dari Janes’s Fighting Ship (1983 – 1984) menyebutkan Komar baru dipensiunkan TNI AL pada tahun 1985. Meski Komar bisa digunakan terus sampai 1985, kemungkinan lewat kanibalisasi suku cadang, rasanya masih harus dipertanyakan tentang fungsi dan operasional rudal Styx, mengingat rudal meski hanya dalam kondisi standby tetap memerlukan pemeliharan dan update suku cadang. 

Besar kemungkinan Komar hingga akhir hayatnya tetap digunakan sebagai kapal patroli, pasalnya Komar masih sedikit bergigi dengan kanon kembar anti pesawat kaliber 25mm di dek depan. Sebagai kenang-kenangan kejayaan masa lalu, salah satu Styx kini bisa dijumpai sebagai monumen yang menghiasi halaman depan Markas Komando RI Kawasan Barat di Jakarta. 

Born to Fight
Styx bisa dibilang jenis rudal yang legendaris dan meraih predikat rudal buatan Uni Soviet yang battle proven. Styx masuk dalam sejarah sebagai senjata yang mengubah pola peperangan di laut. Sejak mulai dioperasikan Uni Soviet pada tahun 1959, Styx telah dipasang pada 100 kapal serang cepat kelas Komar, dimana 70 diantaranya dikirimkan ke berbagai sekutu Soviet, termasuk 12 unit yang dijual ke Indonesia.
Pamor Styx mencuat saat digunakan dalam konflik antara Mesir dan Isreal. Saat itu, 21 Oktober 1967, dua kapal Komar milik Angkatan Laut Mesir meluncurkan Styx terhadap kapal berbendera Angkatan Laut Isreal, yakni perusak Eilat. Kedua kapal Mesir itu menembakkan rudalnya dari pangkalan di pelabuhan Alexanderia, dan berhasil mengkaramkan kapal perusak tersebut. Alhasil dunia pun gempar, sebab ini pertama kali sebuah kapal perang dapat ditenggelamkan dengan rudal. 

Kapal serang komar dan Styx kemudian beraksi kembali dalam perang Vietnam. Di bulan April 1972, Komar milik Vietnam Utara berhasil menyerang kapal penjelajah USS Sterett yang sedang membombardir sasaran di pantai Vietnam. Tapi kali ini Styx tak berhasil mengkandaskan kapal sasaran, Styx yang diluncurkan dari kapal Vietnam Utara berhasil disergap oleh rudal darat ke udara RIM-2 Terrier yang dilepeaskan dari USS Sterett. Kejadian ini pun tercatat dalam sejarah sebagai pertama kalinya rudal dapat dihancurkan oleh rudal dalam perang.

Styx dan Osa Class
Selain duet antara Styx dan kapal serang tipe Komar, Styx juga menjalin duet dengan kapal serang kelas Osa yang dioperasikan Uni Soviet oleh keempat armadanya di Laut Utara, Laut Baltik, Laut hitam dan Pasifik. Rudal Styx pada Osa juga sudah mengalami peningkatan dari Styx versi pertama. Prestasi Styx dan Osa sudah tercatat dalam perang India vs Pakistan di tahun 1971. Dalam perang ini, kapal cepat Osa milik AL India dengan Styx-nya berhasil mengkandaskan kapal perusak Khaibar.

Masih ada beragam kisah ‘penugasan’ Styx diberbagai belahan dunia, seperti pada kampanye militer pada krisis rudal Kuba pada tahun 1962. Bahkan varian Styx buatan Cina, yang disebut “Silkworm” juga dilibatkan dalam perang Iran – Irak di tahun 1980 – 1988. Kiprah tempur terakhir keluarga Styx dibuktikan dalam perang Teluk di tahun 1991, saat itu dua rudal Silkworm ditembakkan ke arah kapal penjelajah USS Mussouri, salah satu diantaranya berhasil ditembak jatuh oleh rudal Sea Dart yang diluncurkan dari kapal perusak Inggris, HMS Gloucester.

Pihak lawan Uni Soviet, alias dari AS dan NATO rupanya telah berhasil mengacaukan kendali Styx lewat teknologi electronic countermeasures (jamming). Ini dibuktikan saat Styx digunakan oleh Suriah dan AL Mesir dikala melawan Isreal dalam perang Arab – Isreal.

Hingga kini ribuan Styx dan kloningannya Silkworm dipercaya telah diproduksi ribuan unit. AL Jerman Timur setelah reunifikasi memberikan hampir 200 Styx ke AL Amerika di tahun 1991, terutama dari versi P-15M/P-22. AL Amerika menggunakan Styx untuk tes pertahanan rudal. Untuk Indonesia, Styx memang sudah tinggal kenangan, tapi setidaknya kita boleh berbesar hati sedikit, di Asia Tenggara hanya Indonesia dan Vietnam yang pernah menggunakan rudal sangar ini. 

Spesifikasi Styx/P-15 Termit
Asal : Uni Soviet
Produsen : MKB Raduga
Berat : 2,340 kg
Panjang : 5,8 meter
Diameter : 0,76 meter
Hulu ledak : 500 kg
Penggerak : roket berbahan bakar cair/booster dengan roket berbahan bakar padat
Lebar sayap : 2,4 meter
Jangakaun : 80 km, efektif 40 Km
Kecepatan : 0,9 Mach
Ketinggian Terbang : 100 -300 meter di atas permukaan laut
Pemandu : sistem auto pilot, radar aktif, dan infra merah
Platform peluncuran : kapal perang dan ground launch.
More about Styx : Rudal Anti Kapal Pertama TNI AL