Grumman FF-1

Grumman FF-1

FF-1 adalah pesawat pertama yang dibuat oleh Grumman untuk Angkatan Laut AS. Fighter dengan konfigurasi biplane ini adalah pesawat AL AS pertama yang menggunakna retractable landing gear.

Prototype pesawat ini terbang pertama kali pada tanggal 29 Desember 1931 dan berhasil mencapai kecepatan 314 km/jam. AL AS kemudian membeli sebanyak 60 unit, 27 unit merupakan versi fingther FF-1 dan 33 unit lainnya merupakan versi intai SF-1. Pesawat ini digunakan oleh AL AS dari tahun 1934 sampai dengan tahun 1936 sebelum kemudian ditarik dari garis depan dan digunakan sebagai kekuatan cadangan. Pada tahun 1940 semua pesawat FF-1/SF-1 milik AL AS yang masih ada dimodifikasi dengan dual control dan dijadikan pesawat latih dengan kode FF-2.

Kanada kemudian membeli lisensi pesawat ini dan dibuat sebanyak 57 unit. Sebanyak 40 unit di antaranya kemudian dijual kepada pihak Republik Spanyol dan ikut digunakan dalam Perang Saudara Spanyol. Kemudian Kanada juga menjual pesawat ini masing-masing satu unit kepada Unit Penerbangan Militer Nikaragua dan Angkatan Laut Jepang. Angkatan Udara Kanada sendiri mengoperasikan 15 unit FF-1 hasil lisensi (yang diberi nama Goblin I) dari tahun 1940 sampai dengan tahun 1942.

Specifications (FF-1) :
Crew : 2
Length : 7.47 m
Wingspan : 10.52 m
Height : 3.38 m
Empty weight : 1,405 kg
Maximum take-off weight : 2,121 kg
Powerplant : 1 x 700 hp Wright R-1820-78 Cyclone radial engine
Maximum speed : 333 km/h
Range : 1,100 km
Service ceiling : 6,735 m
Rate of Climbing : 508 m/minute
Armament : 2 x 7.62mm machine guns; 1 x 100 lb (45kg) bomb
More about Grumman FF-1

UH-72A Lakota

UH-72A Lakota, Andalan Baru AD AS

Evakuasi medis, angkut logistik, hingga patroli dalam negeri. Itu tadi merupakan daftar tugas-tugas yang bakal diemban UH-72A Lakota, heli baru milik AD AS. Memang terdengar biasa-biasa saja. Apalagi bila melihat satuan pengguna adalah Army National Guard, so pasti banyak orang berpikir heli ini bukanlah mesin perang canggih dengan segudang teknologi yang spektakuler.

Lepas dari situasi yang tergolong adem ayem tadi, bisa dibilang Lakota sebenarnya merupakan terobosan luar biasa. Biarpun predikat tadi cuma berlaku bagi Eurocopter-EADS. Pasalnya, inilah untuk kali pertama sebuah heli desain asli Eropa mampu mengambil hati petinggi-petinggi Pentagon.

Keputusan Pentagon tadi bukanlah cuma sekadar basa-basi buat mempererat hubungan AS-Eropa yang kian merenggang gara-gara ulahnya di Irak. Namun benar-benar disebabkan karena desakan kebutuhan dilapangan. Begini kira-kira gambarannya. Saat ini Army National Guard mengoperasikan setidaknya tiga tipe heli. Masing-masing adalah Bell UH-1 Huey, OH-58 Kiowa, Sikorsky UH-60 Blackhawk. Dari segi usia, dua tipe pertama sudah kedaluarsa. Sementara UH-60 biarpun tergolong baru namun banyak unit yang harus dikerahkan buat mendukung operasi pasukan AS di garis depan. Apa boleh buat, pengadaan heli barupun mesti digelar.

Partner lokal
Rencana pembelian heli ringan serbaguna atau dikenal dengan nama program LUH (Light Utility Helicopter) muncul ditahun 2005. Kala itu pihak AD AS secara resmi berniat memborong sekitar 322 unit heli ringan baru. Eurocopter jadi salah satu pabrikan heli yang ikut dalam sayembara tadi. Modal yang dibawa adalah UH-145 yang tak lain merupakan versi militer dari heli EC-145.

Tentu saja Eurocopter punya alasan kuat untuk menurunkan tipe EC-145 dalam ajang. Dari segi legalitas misalnya varian ini telah mengantongi sertifikasi kelayakan terbang dari pihak berwenang di AS (US airworthiness authorities). Selanjutnya ditengok dari segi teknis UH-145 menyodorkan sejumlah keunggulan. Dimulai dari volume kabin yang tergolong paling lega di kelasnya. Pintu-pintu, termasuk pintu bagasi belakang yang berguna untuk akses keluar-masuk tandu dibuat lebar. Dibekali sepasang mesin heli juga sudah mengadopsi teknologi glass-cockpit, autopilot generasi terakhir, serta rotor utama non-engsel (hingeless) guna meminimalisir vibrasi dan perawatan.

Bergeser ke soal safety, sudah pasti sesuai dengan yang disyaratkan pihak AD. Sebagai gambaran, sistem pasokan bahan bakar dibuat terpisah satu sama lain. Dengan demikian bila salah satu mesin ngadat tak akan berpengaruh pada mesin lainnya. Fitur keamanan berikutnya, seluruh kursi heli dibuat sedemikian rupa agar mampu menyerap energi hantaman saat heli harus mendarat darurat. Karakter serupa juga dimiliki oleh tubuh heli.

Selain menyodorkan keunggulan, Eurocopter pun juga menerapkan taktik lain agar Pentagon benar-benar ikhlas memakai produknya. Menggandeng sejumlah partner lokal, itulah taktik yang dipakai Eurocopter sejak awal program LUH dicanangkan. Daftarnya lumayan banyak. Sebut saja mulai dari pabrikan heli kondang AS, Sikorsky, WestWind Technologies, dan CAE.

Lantas sekarang apa fungsi dari rekanan-rekanan lokal tadi dalam program? Taruhlah contoh untuk Sikorsky misalnya. Produsen heli Blackhawk ini dipercaya untuk mendukung kelancaran logistik bagi perakitan Lakota. Termasuk didalamnya perbaikan dan overhaul mesin, avionik maupun sistem autopilot. Kemudian ada WestWind Technologies yang dipercaya buat mendukung sepenuhnya piranti pengatur misi, modifikasi pada airframe, hingga dukungan teknis dan manajemen.

Sampai saat ini rencana Pentagon untuk memborong lebih dari 300 unit UH-72A Lakota tetap belum berubah. Semua heli akan dibuat di pabrikan Eurogopter yang berlokasi di Columbus, Mississippi. Bisa jadi kesuksesan Lakota merupakan langkah pembuka bagi heli-heli buatan Eropa lain mendominasi pangsa militer di Negeri Paman Sam yang terkenal punya parameter super ketat. Kita tunggu saja.

Spesifikasi
Volume kabin, termasuk kokpit: 8,08 meter kubik.
Kapasitas angkut: sembilan orang plus satu atau dua pilot.
MTOW: 3,585 kg.
Kapasitas sling: 1,5 ton.
Kapasitas BBM: 694 kg.
Sumber tenaga: sepasang mesin Arriel 1E2
Tenaga take-off: 550 kW
More about UH-72A Lakota

RPG-7

RPG-7

RPG yang merupakan singkatan dari Rocket Propellaned Grenade (granat ber-propelasi roket) sebenarnya masuk ke dalam kategori granat (bukan misil). Hal ini dikarenakan warhead (hulu ledak) di depannya hanya sebuah granat yang diluncurkan oleh sebuah pendorong dengan sistem roket. RPG-7 adalah versi lama sebenarnya namun masih banyak dipakai hingga sekarang dikarenakan biaya rawat nya yang sangat murah. RPG-7 adalah senjata buatan Rusia yang sudah digunakan sejak lama. Kelemahan RPG-7 adalah masih mengusung sistem lama, sehingga roket tidak dibekali "kepintaran" untuk mengunci dan mengejar target.

Data teknis:
Peluru : 40 mm launcher (peluncur) ; 70 - 105mm warheads (hulu ledak).
Tipe : roket tanpa hentakan balik.
Panjang keseluruhan : 650 mm
Berat : 6.3 kg tanpa roket
Jarak tembak : 200 - 500 meter (tergantung jenis roket)
More about RPG-7

KRI Mandau (621)

Kapal Patroli Cepat Kelas Mandau

KRI Mandau (621) merupakan kapal patroli cepat berpeluru kendali milik TNI AL. KRI kelas Mandau ini berperan sebagai kapal patroli utama TNI AL dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI.

KRI kelas Mandau dibuat oleh perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Tacoma SY, Masan pada 1979. Beberapa variant dari kapal kelas ini diantaranya : KRI Rencong (622) dibuat pada 1979, KRI Badik (623) dibuat pada 1980, dan KRI Keris (624) dibuat pada 1980.

KRI Mandau diawaki oleh 43 orang anak buah kapal termasuk komandan kapal. KRI Mandau tidak dilengkapi untuk pertempuran anti kapal selam (ASW) dan juga tidak dilengkapi dengan sonar pendeteksi bawah laut.

Namun untuk pertempuran permukaan persenjataan yang dimilikinya lumayan lengkap. Awalnya KRI Mandau dilengkapi dengan rudal permukaan Exocet MM-38 dengan jarak jangkau 42km. Semenjak ada kerjasama alih teknologi dengan China Exocet mulai diganti dengan rudal C-802 buatan SACCADE.

KRI Mandau mempunyai panjang 53.58meter * 1.63 meter, dan jelajah tempur 41NM (Nautikal Miles). Bobot penuh 290 ton dan bobot kosong 255 ton.

Reka bentuk kapal sangat memungkinkan untuk mengaplikasi pelbagai sistem persenjataan untuk memenuhi keperluan operasi sesuai dengan tuntutan TNI AL akan operasional kapal patroli cepat.

Persenjataan :
Penggunaan C-802 pada KRI Mandau sempat membuat efek deterence yang besar pada kapal ini, meskipun baru mengaplikasi tabung peluncur pada buritan kapal.

C-802 berbasis pada rudal jelajah anti kapal kondang Exocet dan Harpoon, China sukses merancang dan membuat rudal jelajah dengan nama asli Yingji 82 (YJ-82) ini. Hasil pengembangannya dipakai untuk mempersenjatai armada kapal perang dan pesawat tempur AB China. Varian ekspornya (C-802) kini banyak diminati negara-negara ASEAN.

C-802 mempunyai pendorong turbojet engine dengan berat luncur 715 kg, rudal ini mempunyai kecepatan Mach 0.9 diketinggian 20-30km. Jarak jangkauan mencapai 120 km, dengan muatan hulu ledak 165 kg. Rudal ini berpandu radar inertial dan terminal active radar.

Persenjataan standar KRI Mandau :
• Meriam Bofors 57 mm/70 : 1 pucuk, kecepatan tembakan 200 rpm, berjangkauan maksimum 17 km (9,3 mil laut) dengan berat amunisi 2,4 kg, anti kapal, pesawat udara, helikopter, rudal balistik, rudal anti kapal,
berpemandu tembakan Signaal WM28.
• Meriam Bofors 40 mm/70 : 1 pucuk, kecepatan tembakan 300 rpm, dengan jangkauan maksimum 12 km (6,6 mil laut) dengan berat amunisi 0,96 kg, anti kapal, pesawat udara, helikopter, rudal balistik, rudal anti kapal.
• Kanon Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall 20 mm : 2 pucuk, kecepatan tembakan 1000 rpm, dengan jangkauan efektif 2 km dengan berat amunisi 0,24 kg,
anti pesawat udara, helikopter.
More about KRI Mandau (621)

Northrop F-89 Scorpion

Northrop F-89 Scorpion

Selain Lockheed F-94 Starfire, jet tempur AS lainnya yang merupakan all weather interceptor fighter adalah Northrop F-89 Scorpion. Berbeda dengan F-94 yang dikembangkan dari pesawat latih jet T-33, F-89 adalah hasil desain baru yang benar-benar dirancang sebagai jet tempur segala cuaca. Pesawat tempur ini terbang pertama kali pada tanggal 16 Agustus 1948 dan mulai digunakan secara operasional pada bulan September 1950.

Angkatan Udara AS menggunakan F-89 Scorpion untuk menggantikan P-61 Black Widow dan F-82 Twin Mustang. Varian awal jet tempur ini (F-89A/B/C) dipersenjatai dengan enam pucuk kanon kaliber 20mm serta cantelan senjata di bawah sayap yang bisa dipasangi enam belas roket kaliber 127mm atau bom seberat 1.455 kg. Namun varian yang paling banyak dibuat adalah F-89D yang terbang pertama kali pada tanggal 23 Oktober 1951 dan mulai digunakan secara operasional pada tahun 1954.

Varian F-89D dibuat sebanyak 682 unit. Pada varian ini dilengkapi dengan radar APG-40 (yang dapat mendeteksi sasaran dari jarak 80 km), fire control E-6 buatan Hughes, dan komputer AN/APA-84. F-89D dipersenjatai dengan dua pod roket yang masing-masing berkapasitas 52 buah roket kaliber 70mm, sehingga secara total dipersenjatai dengan 104 roket kaliber 70mm. Nothrop kemudian mengembangkan F-89D menjadi varian F-89E, F-89F, dan F-89G. Namun ketiga varian tersebut tidak berhasil menarik minat USAF sehingga hanya dibuat prototype saja. Baru pada varian F-89H Angkatan Udara AS tertarik dan kemudian menggunakannya pada tahun 1956.

F-89H dilengkapi dengan fire control E-9 buatan Hughes, sama seperti yang digunakan pada jet tempur Convair F-102 Delta Dagger. Masih menggunakan dua pod senjata seperti pada F-89D, hanya saja persenjataan varian F-89H berubah menjadi enam rudal udara ke udara AIM-4 Falcon dan 42 roket kaliber 70mm.

Pada tahun 1956-1957 Angkatan Udara AS menggelar Project Ding Dong, upaya untuk meningkatkan kemampuan varian F-89D. Sebanyak 350 unit varian F-89D kemudian dikonversi menjadi varian F-89J. Varian ini mempunyai kemampuan untuk meluncurkan AIR-2 Genie, roket udara ke udara yang memiliki jarak tembak 9,7km dan dilengkapi dengan hulu ledak nuklir tipe W25. Kemampuan senjata nuklir tersebut pernah diuji coba dalam Operation Plumb Bob di tahun 1957.

F-89 Scorpion digunakan oleh USAF sampai dengan tahun 1959 dan kemudian dialihkan kepada unit-unit Air National Guard yang mengoperasikan F-89 sampi dengan tahun 1969.

Specifications (F-89D)
Crew : 2
Powerplant : 2 x 32.11kN / 7,200 lb-afterburning thrust Allison J35-A-35 turbojet engines
Length : 16.41m
Wingspan : 18.18m
Height : 5.36m
Weight empty : 11,428 kg
Maximum take-off weight : 19,160 kg
Maximum speed : 1,024 km/h
Range : 2,200 km
Service ceiling : 15,000m
Armament : 104 x 70mm rockets
More about Northrop F-89 Scorpion

M8 Greyhound Armored Car

M8 Greyhound Armored Car

Tahun 1941 militer AS menyatakan bahwa mereka membutuhkan panser baru yang lebih modern dan memiliki kemampuan sebagai tank destroyer ringan untuk menggantikan M6 37mm Gun Motor Carriage. Beberapa perusahaan pun membuat panser untuk memenuhi kebutuhan militer AS tersebut, termasuk Ford yang membuat M8 Greyhound dan Chevrolet yang membuat Staghound. Pada akhirnya milter AS memilih M8 Greyhound, sementara Staghound digunakan oleh militer Inggris.

Panser dengan empat orang awak ini memiliki berat 7,9 ton (lebih ringan daripada Staghound yang 13,9 ton). M8 menggunakan mesin bensin Hercules JDX berkekuatan 110 tenaga kuda. Memiliki kecepatan maksimum 89 km/jam dengan jarak tempuh 563 km. Panser ini dipersenjatai dengan sepucuk meriam M6 kaliber 37mm dan senapan mesin Browning M1919 A4 kaliber 0.30. Selain itu masih ada pula sepucuk senapan mesin berat Browning M2HB kaliber 0.50. Khusus untuk M20 yang merupakan varian intai dari M8, maka hanya dipersenjatai dengan sepucuk senapan mesin Browning M2HB.

Pada saat M8 memasuki tahap produksi, dirasakan bahwa meriam 37mm sudah tidak seuai lagi sebagai persenjataan kendaran yang dirancang sebagai tank destoyer. Akhirnya diputuskan bahwa M8 bukan lagi sebagai tank destroyer , tetapi sebagai kendaraan intai dan untuk tugas fire suport secara terbatas. M8 pertama kali diigunakan dalam operasi militer di Italia. Selanjutnya panser ini juga digunakan oleh pasukan AS di Eropa dan front Pasifik. Selama Perang Dunia II panser ini juga digunakan oleh pasukan Inggris, Perancis, dan Brasil.

Pengalaman tempur dalam Perang Dunia II memperlihatkan bahwa M8 masih dapat digunakan sebagai tank destroyer secara terbatas. Hal ini terutama terlihat di front Pasifik, di mana M8 masih mampu mengimbangi tank-tank Jepang . Sementara di front Eropa Barat bisa dikatakan M8 hanya efektif untuk menghadapi kendaraan lapis baja ringan Jerman, walaupun dalam Battle of the Bulge sebuah tank Panther Jerman dilaporkan rusak berat setelah bagian belakang tank dihantam beberapa peluru kaliber 37mm yang ditembakkan dari M8 Greyhound.

M8 Greyhound masih terus digunakan selama puluhan tahun setelah Perang Dunia II usai. Pasukan AS masih menggunakannya dalam Perang Korea, sementara Perancis menggunakannya dalam operasi militer di Aljazair dan Indo China. Korps Brimbob Polri juga pernah mempergunakan M8 Greyhoud hingga tahun 1960-an.

Beberapa unit M8 dicopot turretnya dan digunakan oleh SWAT di beberapa kota di AS sampai akhir tahun 1980-an (varian M8 milik SWAT ini pernah muncul di film “Die Hard” yang dibintangi Bruce Willis). M8 Greyhound masih digunakan oleh beberapa negara sampai saat ini, termasuk varian milik Kolombia yang dipersenjatai dengan rudal anti tank TOW.
More about M8 Greyhound Armored Car

Bloch MB.200

Bloch MB.200

Bloch MB.200 dirancang untuk memenuhi permintaan Angkatan Udara Perancis pada tahun 1932. Pesawat yang dirancang sebagai night bomber ini berhasil melakukan first flight pada bulan Juli 1933 dan mulai digunakan oleh AU Perancis pada tahun 1934. MB.200 dibuat sebanyak 332 unit.

Pada saat pecah Perang Dunia II, pesawat ini dianggap sudah ketinggalan jaman dan lebih banyak digunakan sebagai pesawat latih. Walaupun demikian, MB.200 masih melakukan beberapa misi pemboman terhadap pasukan Jerman. Setelah Battle of France, banyak pesawat ini yang direbut oleh Jerman dan kemudian diberikan kepada Cekoslovakian dan Bulgaria.

Pemerintahan Vichy France sendiri tetap mengoperasikan MB.200, bahkan sempat menggunakannya untuk membom pasukan Sekutu dalam pertempuran di Lebanon dan Suriah. MB.200 dipensiunkan pada awal tahun 1943, tidak lama setelah pendaratan pasukan Sekutu di Afrika Utara.

Specifications ( MB.200B.4)
Crew : 4
Length : 16.00 m
Wingspan : 22.45 m
Height : 3.90 m
Empty weight : 4,300 kg
Loaded weight : 7,480 kg
Powerplant : 2 x 870 hp Gnome Rhone 14Kirs radial engines
Maximum speed : 285 km/h
Range : 1,000 km
Service ceiling : 8,000 m
Armament : 3 x 7.5mm machine guns and up to 1,200 kg of bombs
More about Bloch MB.200