Blackburn Ripon

Blackburn Ripon

Blackburn Ripon dirancang sebagai torpedo bomber/reconnaissance bomber yang dapat dioperasikan dari atas kapal induk. Dibuat untuk memenuhi permintaan Angkatan Laut Inggris, pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 17 April 1926 dan dibuat sebanyak 92 unit.

Angkatan Laut Inggris mengoperasikan Blackburn Ripon dari tahun 1929 sampai dengan tahun 1935. Selain Inggris, pesawat ini juga dibuat secara lisensi oleh Finlandia. Sebanyak 25 unit Blackbur Ripon ikut digunakan dalam Perang Dunia II, bertempur melawan pasukan Uni Soviet sebelum kemudian akhirya dipensiunkan oleh AU Finlandia pada tahun 1944

Specifications (Ripon Mk.IIC)
Crew : 2
Length : 11.20 m
Wingspan : 13.67 m
Height : 3.91 m
Empty weight : 1,878 kg
Loaded weight : 3,310 kg
Powerplant : 1 x 570 hp Napier Lion X radial engine
Maximum speed : 179 km/h
Range : 660 km
Service ceiling : 3,050 m
Armament : 2 x 7.7mm machine guns, 1 x torpedo or up to 750 kg of bombs
More about Blackburn Ripon

Transall C-160

Transall C-160

Transall C-160 adalah pesawat angkut militer yang dikembangkan oleh sebuah konsorsium produsen pesawat terbang Perancis dan Jerman untuk pasukan udara kedua negara dan Afrika Selatan. C-160 akan diganti dalam penggunaan oleh angkatan udara Prancis dan Jerman oleh Airbus A400M, sekarang sedang dikembangkan

C-160 pada awalnya dipahami sebagai pengganti armada Air Force Perancis Noratlas Nord. Hal ini dikarenakan memiliki mesin turboprop bertenagai, dengan sayap yang tinggi, dan ramp loading dibangun ke bagian belakang pesawat. Dalam ukuran itu jatuh antara G.222 Aeritalia dan C-130 Hercules.

Tiga prototipe terbang pada tahun 1963, diikuti dengan contoh-contoh pra-produksi pada tahun 1965 dan airframes produksi dari 1967. Batch pertama adalah 110 C-160D untuk Luftwaffe, 50 C-160F untuk Angkatan Udara Perancis, dan sembilan C-160 untuk Angkatan Udara Afrika Selatan. Produksi berlanjut hingga tahun 1972 dengan pesawat Perancis yang dibangun oleh Aérospatiale dan pesawat Jerman dengan Messerschmitt-Bölkow-Blohm.

Pada tahun 1977, Angkatan Udara Perancis memerintahkan versi terbaru C-160NG yang ditunjuk, untuk Nouvelle Génération ("New Generation"). Dari tahun 1981, 29 dari pesawat ini telah dikirim, setengah dari mereka dikonfigurasi sebagai pesawat tanker untuk mengisi bahan bakar udara. Empat dikonfigurasi sebagai pesawat C-160H TACAMO, untuk berkomunikasi dengan kapal selam. Akhirnya, dua diubah menjadi SIGINT pesawat pengintai elektronik, ditunjuk C-160g Gabriel, menggantikan Noratlases yang telah berperan sebelumnya. Sementara masih baru, C-160Gs ambil bagian dalam Perang Teluk 1991.

Dari tahun 1994 hingga 1999, semua C -160 Prancis mengalami upgrade avionik dan penambahan penanggulangan anti-rudal baru. C-160Fs dan NG sehingga diperbarui adalah redesignated C-160R . airframes Luftwaffe telah sama menjalani program retreksi oleh BAE Systems, tetapi semua C-160 Perancis dan Jermantelah mencapai penggunaan mencapai tahun 2008. Semua C-160 Afrika Selatan telah pensiun, sedangkan Angkatan Udara Turki terus beroperasi sebanyak 20 buah yang diperoleh dari Jerman (C-160T).

Untuk mengganti Transall, Luftwaffe, Angkatan Udara Prancis, dan Afrika Selatan masing-masing Angkatan Udara memesan 60, 50 dan delapan Airbus A400M tetapi pada Afrika Selatan dibatalkan.

Salah satu Afrika Selatan Air Force C-160Z nomor 337 telah dipamerkan di Afrika Selatan Museum Angkatan Udara, Swartkop Air Force Base dekat Pretoria.

Spesifikasi
• Crew: Three—two pilots, flight engineer
• Capacity:
o 93 troops or
o 61–88 paratroops or
o 62 stretchers
• Payload: 16,000 kg (35,275 lb)
• Length: 32.40 m (106 ft 3½ in)
• Wingspan: 40.00 m (131 ft 3 in)
• Height: 11.65 m (38 ft 2¾ in)
• Wing area: 160.0 m² (1,722 ft²)
• Empty weight: 29,000 kg (63,935 lb)
• Max takeoff weight: 51,000 kg (112,435 lb)
• Powerplant: 2× Rolls-Royce Tyne Rty.20 Mk 22 turboprop, 4,549 kW (6,100 ehp) each

Performance
• Never exceed speed: 593 km/h (320 knots, 368 mph)
• Maximum speed: 513 km/h (277 knots, 319 mph) at 4,875 m (16,000 ft)
• Stall speed: 177 km/h (95 knots, 110 mph) flaps down
• Range: 1,853 km (1,000 nmi, 1,151 mi) with 16,000 kg payload, 30 min reserves
• Ferry range: 8,858 km (4,780 nmi, 5,504 mi)
• Service ceiling: 8,230 m (27,000 ft)
• Rate of climb: 6.6 m/s (1,300 ft/min)
• Wing loading: 319 kg/m² (65.3 lb/ft²)
• Power/mass: 0.18 kW/kg (0.11 hp/lb)
More about Transall C-160

Gannet TNI-AL

Gannet TNI-AL

Dengan luas wilayah laut yang begitu luas, ironis bagi kekuatan angkatan laut Indonesia yang saat ini tak memiliki satuan pesawat AKS (anti kapal selam). Walau ada Boeing 737 surveillance, N22 Nomad dan CN-235 MPA (maritim patrol aircraft), kedua pesawat tadi hanya sebatas mampu melakukan fungsi pengintaian, tanpa bisa melakukan aksi tindakan bila ada ancaman kapal selam. Maklum Boeing 737, Nomad dan CN-235 MPA tidak dibekali senjata ke permukaan.

Tambah miris lagi perasaan kita, justru negeri tetangga – Thailand, Filipina dan Singapura kini punya armada pesawat AKS (anti kapal selam), yakni Fokker F-27 Enforcer yang dirancang bisa menggotong rudal Harpoon, AM39 Exocet dan Sea Skua. Hakikatnya pesawat AKS adalah pesawat pengintai maritim juga yang dilengkapi radar dan sensor untuk mendeteksi obyek di permukaan dan bawah laut. Tapi ada peran yang ditambahkan dari pesawat intai maritim biasa, yakni kemampuan aksi untuk menghancurkan keberadaan kapal selam.

Sedikit mengintip ke sejarah masa lampau, TNI-AL lewat korps Penerbal (Penerbangan Angkatan Laut) pernah memiliki armada pesawat AKS buatan Inggris. Pesawat yang dimaksud adalah Fairey Gannet. Pesawat ini sangat khas, pertama karena sosoknya yang terlihat tambun dan kedua, Gannet punya dua bilah baling-baling yang sejajar di bagian hidung. Dua bilah baling-baling ini berputar saling berlawanan arah. Masuknya pesawat AKS jenis Ganet ke jajaran TNI-AL diawali dengan kontrak pembelian pesawat Gannet tipe AS-4 dan T-5 oleh KSAL dengan pihak Fairey Aviation Ltd (Inggris) pada tanggal 27 Januari 1959 di Jakarta.

Sebagai pesawat AKS, Gannet dirancang untuk bisa beroperasi dari landasan kapal induk, untuk itu sayap Gannet dapat dilipat dan untuk pendaratan dilengkapi pengait. Gannet yang dirancang pasca perang dunia kedua (1955) dioperasikan oleh empat negara, yakni Inggris, Indonesia, Australia dan Jerman. TNI-AL sendiri menempatkan satuan Gannet dalam skadron 100 AKS sebagai bagian dari kampanye operasi Trikora. Untuk ’mengganyang’ kapal selam musuh, Gannet dibekali kemampuan membawa dua unit torpedo yang ditempatkan dalam bomb bay. Serta tak ketinggalan peluncur roket dibawah kedua sayap.

Namun disebabkan insiden jatuhnya beberapa Gannet, pesawat ini tak dioperasikan dalam waktu lama karena sistem avionik yang kurang baik. Alhasil nasib Gannet keburu di grounded di semua negara. Jejak rekam sejarah pesawat tambun dengan tiga awak ini bisa dijumpai sebagai monumen di museum Satria Mandala, Jakarta dan Lanunal Juanda, Surabaya. Kedepan mudah-mudahan TNI-AL bisa memiliki pesawat AKS modern, dengan begitu pastinya lawan pun akan segan pada negeri ini

Spesifikasi
Pembuat : Fairey Aviation, UK
Awak : 3
Mesin : 1× Armstrong Siddeley Double Mamba ASMD.4 turboprop, 3,875 hp (2,890 kW)
Kecepatan : 402 Km/jam
Jarak Operasi : 1127 Km
Endurance terbang : 5 – 6 jam

More about Gannet TNI-AL

M26 Pershing Heavy Tank

M26 Pershing Heavy Tank

M26 Pershing adalah heavy tank yang digunakan oleh pasukan AS pada masa-masa akhir Perang Dunia II. Tank ini diberi nama Pershing sebagai penghargaan untuk mengenang jasa-jasa Jenderal John Joseph “Black Jack” Pershing, komandan American Expeditionary Force dalam Perang Dunia I.

Tank dengan berat sekitar 41,8 ton ini diawaki lima orang dan menggunakan mesin bensin Ford GAF V-8 berkekuatan 500 tenaga kuda. Memiliki kecepatan maksimum 40 km/jam dan jarak tempuh sekitar 160 km. Persenjataan utama tank ini adalah sepucuk meriam M3 kaliber 90mm dengan 70 butir amunisi. Selain itu masih ditambah dengan dua pucuk senapan mesin ringan Browning M1919A4 kaliber 0.30 (5.000 butir amunisi) dan sepucuk senapan mesin berat Browning M2HB kaliber 0.50 (550 butir amunisi).

Proyek tank ini sebetulnya telah dimulai pada tahun 1942-1943, namun tidak berjalan lancar karena menemui banyak hambatan,; termasuk ditentang oleh sejumlah perwira militer AS. Pada masa itu doktrin militer AS tidak mengenal konsep heavy tank. Selain itu doktrin pasukan AS pada waktu itu juga menyebutkan bahwa pasukan tank adalah untuk mendukung pasukan infantri, sementara pertempuran antar tank adalah tugas pasukan tank destroyer. Tidak hanya proyek tank T26/M26 saja yang ditentang, bahkan penggunaan meriam kaliber 76mm pada tank-tank Sherman juga tidak berjalan mulus karena dianggap tidak mampu melontarkan proyektil HE sebaik meriam 75mm. Tidak main-main, salah satu penentang tank T26/M26 dan meriam kaliber 76mm adalah Jenderal George S.Patton.

Kemunculan tank-tank Panther dan Tiger dalam pertempuran di Normandia merubah semua pandangan tersebut. Para perwira militer AS pun berbalik banyak yang meminta Sherman dipersenjatai dengan meriam 76mm (termasuk jenderal Patton) dan proyek tank T26/M26 kembali berjalan dan kemudian memasuki masa produksi, walaupun masih dalam skala terbatas.

Pada bulan Desember 1944 Jerman melancarkan serangan di Ardennes dan walaupun akhirnya pasukan AS berhasil memukul mundur serangan Jerman tersebut, mereka kehilangan banyak tank. Militer AS pun kemudian meminta agar T26 segera dikirim ke medan perang. Namun karena masalah produksi, hanya sekitar 20 unit yang berhasil dikirim ke Eropa pada bulan Januari 1945.

T26 tidak sempat digunakan dalam pertempuran besar di Eropa, namun beberapa kali terlibat dalam kontak senjata dengan pasukan Jerman. Untuk pertama kalinya pasukan AS memiliki tank yang mampu diajak bertempur secara frontal melawan tank-tank Panther dan Tiger. Namun sebuah tank T26 sempat rontok dalam duel melawan tank Tiger Jerman. T26 terus digunakan hingga Perang Dunia II usai. Selain di Eropa, beberapa unit T26 juga sempat dikirim ke Okinawa namun tidak sempat terlibat pertempuran karena mendarat hanya beberapa hari sebelum Jepang menyerah.

Usai Perang Dunia II, kode T26 diubah menjadi M26 Pershing dan kemudian digolongkan sebagai medium tank. Varian selanjutnya adalah versi yang lebih modern dan diberi nama M46 Patton. Tank-tank ini kemudian digunakan dalam Perang Korea dan pada tahun 1950-an sejumlah negara Eropa Barat juga menerima tank ini sebagai bagian dari kekuatan militer mereka. Salah satunya adalah Italia yang menggunakannya sampai tahun 1963.

Dari pengalaman membuat tank M26 Pershing inilah yang kemudian menjadi dasar bagi AS dalam pengembangan tank M48 dan M60 Patton.
More about M26 Pershing Heavy Tank

IS-2 Stalin Heavy Tank

IS-2 Stalin Heavy Tank

Pada tahun 1943 tank-tank berat KV-1 dan KV-2 dirasakan sudah tidak mampu lagi digunakan dalam pertempuran melawan Jerman. Lambat dan dengan persenjataan yang sama dengan tank medium T-34, ditambah dengan kemunculan tank-tank Panther dan Tiger semakin menegaskan akan adanya kebutuhan heavy tank baru bagi pasukan Uni Soviet. Oleh karena itu maka kemudian dirancang satu tank baru yang akhirnya diberi nama IS, mengambil dari nama Iosef Stalin; pimpinan negara Uni Soviet.

Versi awal tank dengan empat orang awak ini adalah IS-1 yang dipersenjatai dengan meriam D-5T kaliber 85mm. Namun pada saat yang bersamaan diproduksi medium tank T-34/85 dengan persenjataan yang sama dan oleh karena itu dibutuhkan meriam dengan kaliber yang lebih besar untuk mempersenjatai heavy tank baru tersebut. Uji coba sempat dilakukan dengan menggunakan meriam kaliber 100mm, namun kemudian dihentikan dengan alasan logistik. Akhirnnya diputuskan untum mempersenjatai tank tersebut dengan meriam D-25T kaliber 122mm.

Konsep heavy tank dalam militer Uni Soviet adalah untuk mendukung pasukan infantri dan oleh karena itu dipergunakan meriam kaliber 122mm. Dengan proyektil HE seberat 28 kg (bandingkan dengan meriam 88 Jerman dengan proyektil HE seberat 9 kg, atau proyektil HE meriam 75mm yang hanya seberat 4 kg) tentu saja sangat menakutkan. Selain itu meriam 122m juga sudah digunakan secara luas di kalangan pasukan Uni Soviet sehingga mempermudah urusan logistik. Selain meriam kaliber 122 dengan 28 butir amunisi, IS-2 juga dipersenjatai dengan dua pucuk senapan mesin DT kaliber 7,62mm; tidak sedikit pula IS-2 yang masih ditambahi dengan senapan mesin berat DShk kaliber 12,7mm guna keperluan anti serangan udara.

IS-2 pertama kali digunkan dalam pertempuran pada bulan April 1944. Pasukan tank Jerman kaget luar biasa ketika melihat meriam kaliber 88mm pada tank Tiger I tidak mampu menembus lapisan baja IS-2, kecuali dalam jarak kurang dari 1.000 meter. Bahkan meriam kaliber 75mm tank Panther bahkan hanya efektif dalam jarak kurang dari 600 meter. Walaupun lebih diutamakan untuk menembakkan proyektil HE, tetapi meriam 122mm pada tank IS-2 juga bisa digunakan untuk menembakkan proyektil AP dan mampu menembus lapisan baja tank Tiger dalam jarak lebih dari 1.000 meter.

Secara teknis lapisan baja dan meriam 122mm yang digunakan tank IS-2 memang mampu mengimbangi tank-tank Jerman, namun IS-2 ternyata lebih lamban dan sulit bermanuver jika dibandingkan dengan tank-tank Jerman. Selain itu tank-tank Jerman juga memiliki fire control yang jauh lebih baik dari tank-tank Uni Soviet.
Walaupun masih memiliki kelemahan, tetapi IS-2 adalah tank yang cukup tangguh dan digunakan sebagai ujung tombak serangan pasukan Uni Soviet pada tahun 194401945. Tank ini pula yang digunakan untuk mendobrak pertahanan Jerman di Berlin, sekaligus membawa Uni Soviet meraih kemenangan dalam Perang Dunia II.

Pada awal tahun 1945, muncul versi baru dari tank IS-2; yaitu IS-3. Versi IS-3 ini memiliki lapisan baja yang lebih tebal dengan desain turret model baru. IS-3 adalah salah satu simbol perang dingin, digunakan oleh beberapa negara sekutu Uni Soviet pada tahun 1950-an dan 1960-an. Salah satu penggunanya adalah Mesir, yang menggunakan IS-3 dalam Perang Arab-Israel tahun 1967 dan 1973.

Secara total telah diproduksi lebih dari 8.000 unit tank IS dalam berbagai varian dan versi, termasuk assault gun ISU-122 dan ISU-152.
More about IS-2 Stalin Heavy Tank

SA – 1 Guild

S (Systema) – 25 Berkut / Kode NATO : SA – 1 Guild

Sishanud SAM pertama Russia/Uni Sovyet ini dibangun pada 9 Agustus 1950. Sishanud SAM S-25 Berkut ( yang berarti Elang Emas dalam bahasa Indonesia ) terdiri dari :

- Radar E/F A-100 “Kama”, yang berfungsi sebagai Radar Peringatan Dini dan Deteksi Target. Jangkauannya antara 25 – 250 km.
- Radar B-200, berfungsi sebagai Radar Pemandu Rudal.
- Rudal V-300, Rudal utama dalam Sistem S-25 ini.

Tidak banyak yang dapat dijelaskan dalam Sishanud SAM Russia pertama ini selain mempunyai kecepatan maksimun 2,5 Mach, membawa hululedak berkisar antara 200 – 300 kg, serta ketinggian minimum 900 meter maksimal 18 km. Sista ini dibangun untuk mengatasi pembom tinggi Amerika B-52 Stratofortress.

Negara yang mengoperasikan Sista Hanud ini hanya ada 2 : Uni Sovyet/Russia dan Korea Utara
More about SA – 1 Guild

KAR-98

KAR-98

Karabiner 98 adalah rifle dengan sistem mekanisme bolt-action (satu peluru, satu reload). Dikembangkan oleh salah satu pabrik senjata terkenal pada jaman dulu di Jerman yang bernama Mauser (sekarang dah kalah pamor sama Heckler und Koch -H&K). Kar98k masuk ke dalam dinas militer NAZI pada tahun 1935. Memiliki tingkat akurasi yang cukup baik, hanya saja masih kalah dengan pesaing nya 'Mosin-Nagant' buatan Rusia.

Data teknis
Ukuran peluru : 7.92 x 57mm Mauser.
Panjang seluruh : 1250mm
Panjang laras : 740mm
Berat : 4.09kg
Kapasitas peluru : 5 peluru
More about KAR-98